Skip to main content

Featured

Sering Terlupakan 2



Assalamualaikum...
Post pertama untuk blog yang semoga saja bisa langgeng...
Share cerpen lama yang sudah mulai lapuk dimakan kutu. Tertempuk bersama cerpen-cerpen karya orang tidak terkenal ini.
Semoga suka....



Setia?Terima Apa Adanya Walau Alay Sekalipun!
            Pagi yang cerah dengan berbagai keindahan dunia.Embun masih belum mengering namun Steffy sudah bangun dari tidurnya.Berusaha untuk bangun agar tidak telat pergi ke sekolah.
            “Pagi yang cerah” gumamnya sambil membuka tirai jendela kamarnya.
            “Tak akan pernah ada yang lebih indah dengan senyumnya” gumamnya lagi.
            “Bastian…Bastian…”.
            “Steffy….Cepet mandi kamu tahu sekarang sudah jam berapa”  suara seseorang yang berteriak dari luar. Yang ternyata itu adalah Ibu Steffy.Seorang yang telah melahirkan dan membesarkan Steffy.Dan mau menerima Steffy meskipun terlahir dalam keadaan 4L4y dan lebay.
            “Iya ini juga mau mandi” atanya sambil meraih handuk merah muda bergambarkan princess di gantungan besi yang bewarna merah muda juga,yang  berbentuk babi kecil.
            “Huh,” desahnya ketika memasuki kamar mandi.
            Tak beberapa lama seorang dia keluar dari kamarnya berjalan centil menuju ruang makan.Disana ibunya telah menyiapkannya roti bakar kesukaanya.
            “Ini rotinya sayang.”
            “Makasih Ma” kata gadis itu dan segera mencomot 2 roti sekaligus.
            “Oh, iya pulang sekolah nanti langsung pulang ya!. Jangan kelayapan, Jangan kayak anak tetangga sebelah yang di gondol genderuwo gara-gara pacaran magrib-magrib di bawah pohon toge.”
            “Yang bener Ma?masa iya pohon toge ada hantunya? Emang bisa apa pacaran di bawah pohon toge?, orang pohon togenya aja kalah tinggi sama aku. Pohon beringin kali Ma?.”
            “Oh, iya..ya sekarang kan kamu udah tinggi. Gara-gara minum susu tiap pagi ya?.”
            “Iya dong.”
            “Ini minum susunya biar tambah tinggi lagi kaya jerapah.”
            “Makasih ya Ma,Steffy mau berangkat dulu ya?.”
            “Hati-hati ya nak. Awas kesandung batu lagi ya.”
            Tidak seperti biasanya dia berangkat sendirian. Dimana Bastian? Katanya ada piket.Bastian memang rajin, sangat pantas menjadi Imam yang baik untuk keluarga mereka nanti, Mungkin. Ah, andai saja semua ini menjadi kenyataan bahwa Steffy dan Bastian menikah suatu saat nanti. Steffy sudah bisa membayangkan betapa bahagianya jika mereka benar menikah suatu hari nanti.Memiliki beberapa anak yang lucu-lucu.Sudah lah pikiran Steffy sudah kemana-mana.
`           Gara-gara terlalu memikirkan Bastian, tidak terasa dia sudah sampai di depan gerbang sekolah. Di dongakkan wajahnya keatas melihat seseorang di atas sana yang sedang melambaikan tangannya kepada Steffy, Ya itu Bastian. Laki-laki yang selalu gadis catik ini pikirkan.
            “Hei, Buruan dasar lemot” canda Bastian.
            “Iiih…” Steffy sok menampakkan wajah cemberutnya, yang kata Bastian itu lucu sekali.
            “Hahaha…” tawa Bastian pecah seketika setelah melihat wajah Steffy yang cemberut.
            “Awas Loe ya?.”
            “Kamu” Bastian menganulir.
            Dengan sekuat tenaga Steffy berlari menuju ke atas tepat Bastian berdiri sekarang. Di ujung sana pria itu sudah menunggu.
            “Emang kalo dasarnya lemot gitu ya lemot mulu..” sindir sang pria pada Steffy yang kelihatan kelelahan setelah menaiki ratusan tangga yang mematikan itu.
            Wajah Steffy yang semula lesu berubah menjadi garang seolah seperti harimau yang akan menerkam mangsanya. Menyiapkan tinjunya, Steffy berlari menuju pacarnya yang menyandarkan sebagian tubuhnya pada dinding kelas.
            Namun, ketika tinggal beberapa langkah lagi tanpa diduga tali sepatu Steffy lepas dan itu membuat Steffy tersandung dan terjatuh.untung saja Bastian dengan cekatan menangkap tubuh ramping Steffy. Seperti adegan di sinetron kesukaan Mama Steffy, waktu seolah berhenti mata mereka bertemu cukup lama.Meski mereka sudah cukup lama berpacaran tapi tak pernah mereka melihat wajah masing-masing sedekat ini.Melihat wajah Steffy dari dekat berbeda sekali ada sensasi tak biasa yang menjalar ditubuhBastian, deg-degan benarkah.Steffy terlihat jauh lebih cantik dari biasanya
            Steffy tak mampu menahan gejolak di hatinya, darahnya mengalir deras.Jantungnya berdegup kencang.Steffy takut Bastianakan mendengar ini. Mereka berada dalam pikiran masing-masing yang tak bisa di bicarakan.
            ‘Teet..tet’
            Bel masuk kelas membangunkan lamunan dua anak manusia itu.Karena kaget Bastian menjadi hilang keseimbangan dan menjatuhkan Steffy begitu saja dilantai.
            “Aww…” Steffy mengerang kesakitan.
            “Maaf..Maaf..Aku kaget” tampak cengiran tak bersalah dari bibirnya.
@@@
            Bel sudah berbunyi lagi, adalah surga bagi setiap murid.Istirahat, waktunya bersenang-senang di kantin.Memang benar kata pepatah berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu ke kantin kemudian. Dengan koreografi yang sama, semua beranjak keluar dari kelas setelah mengemasi kembali peralatan sekolahnya. Kecuali…
            “Kamu gak ke kantin?” tanyaBastian pada Steffy yang masih sibuk mengemasi peralatan tulisnya.
            “Iya bentar lagi mau kesana.”
            “Bareng aku yuk” tawar Bastian.
            “Ya udah deh, yuk.”
            Mereka keluar bersamaan dengan satu tujuan yaitu, Kantin.Sudah Steffy duga pasti Kantin ramai.Memang hampir semua anak makan disini.Kecuali mereka yang sudah membawa makanan dari rumah.
            “Biar aku yang ngantri kamu cari tempat duduk ya?” kata Bastian sambil berhambur pergi sebelum waktu istirahat selesai.
            Dua mangkuk bakso dan dua es jeruk sudah siap di tangan Bastian. Dimana Steffy? Itu dia, kasihan sekali terlihat sekali seperti sudah kelaparan.
            “Maaf lama antriannya panjang banget.”
            “Iya gak papa.”
            “Ayo kita makan.”
            Sambil makan Steffy memandangi wajah Bastian yang semakin hari semakin Ganteng, menurutnya.Andai saja Bastian bisa jadi miliknya untuk selamanya.Menjadi suaminya suatu saat nanti.
            “Kenapa kamu sakit” tanyaBastian pada Steffy karena dilihatnya dari tadi Steffy hanya mengaduk-aduk makanannya.
            “Nggak kok” jawabnya kemudian sambil menyendok bakso yang mulai dingin.
@@@
            Di lorong koridor terlihat sepasang kekasih sedang bercengkrama.Berjalan menuju ke kelas setelah mengisi perut yang kosong dengan bakso.Iya mereka Bastian dan Steffy.
            “Bastian..” panggil Steffy manja, di genggamnya tangan Bastian dengan halus.
            “Hmm..”
            “Lihat aku dong” kata Steffy kesal karena panggilannya tidak di hiraukan oleh Bastian.
            “Iya..”
            “Aku pengen deh suatu saat nanti kita menikah punya anak-anak yang lucu-lucu dan hidup bahagia selama-lamanya.” ucap Steffy penuh harapan. Entah setan apa yang membisikkan hal ini padanya?.
            “Steffy, kita ini masih kelas dua masih lama waktu buat ngurusin yang begituan.Kita masih harus menggapai cita-cita kita dulu, kuliah dan kalo bisa cari kerja dulu. Gak mungkin kan kita menikah dan aku belum mempunyai pekerjaan kamu mau gak aku kasih makan. Terus bagaimana masa depan anak kita kalau aku masih belum bekerja. Sekarang ini kita harus belajar dengan sungguh-sungguh untuk masa depan kita.”
            Mata Steffy memerah mendengar perkataan Bastian tadi. Memang benar apa yang dikatakan tapi entah kenapa Steffy nggak mau menerima ini semua.
            “Kamu gak pernah ngertiin aku.” kata Steffy sambil berlari memasuki kelas dan menutup pintunya dengan keras.‘Brak’ Hampir saja hidung Bastian terbentur pintu.
            “Steffy…Steffy..” panggil Bastian. Steffy hanya bisa menangis di belakang Pintu.
            “Steffy..dengerin aku dulu.” Pria itu berteriak lebih keras.
            “Apa?Aku gak mau mendengar penjelasan kamu lagi.Aku benci kamu.”
            “Terserah kamu mau benci aku yang penting dengerin aku dulu.”
            “Apa lagi aku sudah tahu, kamu mau bilang kalo kita masih kelas dua, gak usah mikirin masalah pernikahan dulu kan. Aku sudah tahu”
            “Bukan”
            “Terus apa”
            “Tolong bukain pintunya dulu.Aku mau bilang kalo kamu salah kelas.Ini bukan kelas kita, kelas kitakan ada di atas.”
            Steffy sadar ini bukan kelasnya.Semua wajah asing yang melihatnya aneh membuat sembuarat merah dipipinya.Di bukanya pintu kelas, Bastian masih di luar berharap dia tidak marah lagi.Tapi ternyata tidak gadis itu malah berlari ke Toilet.Bastian hanya memandangi pungung Steffy yang berlahan-lahan menghilang di belokan koridor.
@@@
            ‘Steffy maafkan aku’ Itulah pesan yang beberapa kali Bastian kirim untuk Steffy tapi tak ada balasan satupun dari Steffy.Apakah dia benar-benar marah dengan kejadian tadi siang di sekolah.Memang setelah kejadian itu Steffy menjadi lebih banyak diam dari biasanya yang selalu cerewet dan manja pada Bastian.
            “Nanti malam aku harus kerumah Steffy untuk minta maaf” ucapnya pada diri sendiri.
            Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.Berulang-ulang Bastian mengirimkan pesan minta maaf pada Steffy tapi tetap saja tak ada balasan satupun, telfonpun tak dianggkat.‘Steffy kamu benar-benar marah padaku’ Tanya Bastian pada dirinya sendiri.Tak seperti biasanya gadis itu begitu marahnya. Padahal biasanya hanya berlangsung beberapa jam sudah baikan.
            Di raihnya kunci sepeda motor dan jaketnya. Segera Bastian meluncur kerumah Steffy.Tak lupa membawa kembang api, rencananya buat kejutan. Selang beberapa menit kemudian Bastian sudah sampai di depan gerbang rumah. Tampak seorang pria setengah baya membaca Koran di depan rumah. Aneh memang membaca Koran sore-sore (menjelang malam) begini. Biasanya orang membaca Koran pagi hari kan?. Ah, sudahlah…
            Setelah menyembunyikan kembang api tadi di tempat yang tepat,Bastian membuka pagar yang ternyata tidak di kunci. Berjalan pelan-pelan mendekati seorang lelaki setengah baya yang terlihat sedang membaca Koran.
            “Permisi Om..”
            “Permisi Om..”
            “Per…”
            “Oh, ada nak Bastian ya. Mau cari Steffy ya?.Steffy tidur dari tadi sore.Setelah pulang dia menguci diri di kamar.”
            “Oh..”Bastian hanya meng’oh’kan saja perkataan Mama Steffy tadi.Jangan-jangan Steffy nangis gara-gara tadi siang.Pikiran Bastian semakin kacau.
            “Maaf tadi kamu panggil-panggil Papanya Steffy ya?” tanya Mama Steffy lagi.
            “Iya Tante.”
            “Papa Steffy memang punya kebiasaan aneh.Ketiduran sambil baca Koran.”Bastian hanya membalas dengan senyuman.
            “Pa..pa bangun udah malem nih..”
            “Hah ada apa maling..kebakaran dimana?” dengan mata setengah terpejam Papa Steffy mengeluarkan kuda-kuda andalannya.
            “Bukan Pa, ini sudah malem. Kan hari ini Papa ada jadwal ngeronda ya?” jawab dan tanya Mama Steffy sekaligus.
            “Oh, iya ya Papa lupa.” jawab Papa Steffy dengan cengirannya.
            “Eh, ada Bastian?.Nanti temenin Om ngeronda ya? Besok kan hari minggu ya. Kamu tidur di sini saja” pinta Papa Bastian pada Steffy.
            “I..iya Om.” jawab Bastian dengan terpaksa karena takut untuk menolaknya.
            Hari sudah semakin larut, tetapi Steffy tak kunjung keluar dari kamarnya.Sementara diteras, Bastian dan Papa Steffy menyiapkan keperluan untuk meronda.
            “Sarung, senter, catur, kopi. Kopinya mana?.”
            “Mbok Ju mana kopinya?”Kata Papa Steffy setengah teriak.
            Bastian melihat-lihat kedalam rumah  berharap mungkin Steffy yang mengantarkan kopinya, mungkin. ‘Apa itu?’ pikir Bastian.Seperti sisir? Gambar HelloKitty. Punya Steffy mungkin, tapi kenapa ada dilantai.Mungkin saja terjatuh. Ah, lupakan.
            Tiba-Tiba datang seorang wanita tua dari dalam rumah dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya.Dia datang begitu tergesa-gesa sehingga tidak melihat sisir tergeletak di lantai. Dan…’BRUK..PYARR’.Cangkirpun terjatuh menumpahkan isi didalamnya.Tidak itu saja ternyata cangkirnya pecah, ya pecah kasihan sekali Mbok Ju.
`           “Aduh Mbok Ju pecahin cangkir lagi?”Tanya seseorang yang tiba-tiba juga nongol dari dalam rumah.
            “Iya Nya maaf buru-buru jadi malah kepleset sisir.”Ucap Mbok Ju penuh penyesalan.
            “Siapa yang naruh sisir disini sih?”Tanya Mama Steffy seraya mengambil sisir itu.
            “Pasti Steffy, anak itu memang teledor.” Lanjut Mama kemudian.
            “Kok bisa sih buru-buru gitu?”Tanya Papa Steffy.
            “Iya soalnya keburu nonton sinetron kesukaan saya.”Jawab Mbok Ju sambil nyengir.
            “Ah, elah kemaren juga pecahin piring gara-gara mau lihat acara musik eh, sekarang malah lihat sinetron.”Kata Mama Steffy sambil melihat buku catatan kecelakaan kerja Mbok Ju.
            “Pokoknya gaji Mbok Ju saya potong.”Mama Steffy meneneruskan lagi argumennya.
            Mbok Ju langsung ngeloyor masuk kerumah sebelum Mama Steffy meneruskan argumen gak jelasnya.Sudah biasa hal itu terjadi. Meskipun Mbok Ju melakukan kecelakaan, Mama Steffy tetap memaafkan walaupun harus di bayar dengan argument  gak jelasnya. Masalah potongan gaji, hanya untuk menakut-nakuti Mbok Ju saja karena akhir-akhir ini jadi keranjingan nonton Tv. Belakangan, penulis tahu kalo Mbok Ju mendaftar ikut cerdas-cermat tingkat pembantu se-komplek, pertanyaan seputar acara televisi(?).
@@@
            Hari semakin malam.Bastian dan Papa Steffy memulai untuk meronda.Mereka memulai membersihkan sampah-sampah di area komplek. Mengumpulkan menjadi satu dan menumpuknya di dekat tong sampah. ‘Apa itu?’Papa Steffy menemukan kresek hitam di belakang tong sampah.Mungkin ini kerjaan Mbok Ju pikirnya.Papa Steffy menumpuk kresek hitam itu di atas tumpukan sampah tadi.
            “Tolong ambilkan korek api di atas pager ya?” Pinta Papa Steffy pada Bastian.
            “Iya Om.”
            “Ini Om.” Kata Bastian beberapa saat kemudian.
            Papa Steffy membakar sampah itu dengan menambahkan sedikit minyak tanah. ‘cres’ bunyi korek api yang di gesekkan.
            Api mulai memakan sampah-sampah kering itu. Merambat sampai ke kresek hitam temuan Papa Steffy tadi. ‘kretek-kretek…cuit..darr..darr..darr..cuit..darr…’
            “Bujubuneng, apaan tuh.” Kata Papa Steffy spontan.
            ‘Sial itu kan kembang api gue, kenapa bisa sampek situ yak?’ Batin Bastian.
            Sementara itu di dalam rumah.
            “Buaya buntung, gajah bunting, tokek belang, keong racun, berondong tua, cabe-cabean, buset dah apaan tuh?”Ternyata Mbok Ju kaget permirsa.
            “Ada bom Mbok?”Tanya Mama Steffy yang duduk di sebelah Mbok Ju.
            “Memangnya sudah lebaran ya Nya kok sudah ada yang nyalain kembang api?” Tanya Mbok Ju masih tidak mengerti.
            Di kamar Steffy.
            Terlihat samar-samar dari cahaya lampu tidur seorang gadis tertidur dengan nyenyaknya sampai suara itu membangunkannya dari mimpi indahnya.Steffy pun bergegas berlari menuju ke depan rumah.
            Suara itu masih terdengar karena memang terdapat banyak kembang api di dalamnya. Suara itu tidak hanya membangunkan Steffy tapi juga mengagetkan semua tetangga sehingga semua orang keluar. Mama dan Mbok Ju juga keluar.
            “Bastian” Panggil Steffy setelah sampai di halaman rumah.Membuat Bastian seketika menoleh.
            “Steffy” Ucap Bastian sedikit berteriak karena senangnya.
            “Han, apakah kamu masih marah denganku?”Tanya Bastian hati-hati.
            “Enggak kok aku sudah melupain, aku Cuma agak malu karena aku salah masuk kelas.”
            “Oh, jadi kamu udah maafin aku.”Tanya Bastian lagi meyakinkan, seraya ingin memeluk Steffy.Namun Steffy segera menolaknya.
            “Ups, bukan muhrim.”
            “Oh, iya aku lupa.” Merekapun tertawa bersama menikmati suasana kacau yang terlihat sangat romantic bagi mereka.
            Sementara itu Papa Steffy.
            “Maaf..maaf..saya juga tidak tahu kenapa bisa meledak-meledak begini.”
            “Tunggu teman wartawan saya datang.” Kata salah satu tetangga.
            “Ini fenomena.” Tetangga yang lain sok tau.
            “Kita harus telepon sensus 88.”Mbok Ju tambah sok tau.
            “Densus 88 kali Mbok.”Kata Mama Steffy membenarkan.
Selesai
 

Comments

Popular Posts