Skip to main content

Featured

Creepy Pasta 1

Siapa yang Angkat Aku Kesini?

http://kotagede.blogspot.com/2012/01/omah-kanthil-wisata-mistis-jogja-di.html

“Koak..Koak..Koak…”
(Suara burung gagak)

Malam ini sepertinya kakek harus sendiri. Suasana malam yang sunyi bermandikan alunan derikan jangkrik dan kodok yang mengorek seirama. Ditunggunya hujan redah namun tetesan air masih terdengar menetes dari talang kanopi rumah. Udara dingin kemudian membuat kakek meringkuk berbungkus sarung lusuhnya. Tinggal dirumah sebesar ini sendirian bukan keinginannya, ia hanya menjaga amanah yang telah diberikan padanya.

Memang tidak setiap hari kakek tidur malam dirumah bergaya keraton ini, bahkan rasanya tidak pernah sepeninggal mbah Warto dulu. Rumah dari mantan juragannya yang telah meninggal 10 tahun yang lalu itu memang sangat besar, dindingnya dari kayu jati, tiang penyangganya juga. Namun sayang, tidak ada yang menempatinya lagi, kini. Istrinya meninggal setahun kemudian karena sakit, kabarnya sakit akibat sedih yang terlalu dalam pada suaminya. Sedangkan lima anaknya sudah berpencar dengan kehidupan barunya. Salah satunya masih tinggal beberapa kilometer dari rumah orang tuanya, memang sesekali ia datang untuk berkunjung meski tidak menginap.

“Uhuk..uhuk…”

Kakek berpikir untuk pulang saja, dinginnya malam membuatnya merindukan rumahnya. Hanya selembar sarung bututnya saja menyelimuti. Matanya nyalang mengamati seluruh ruangan. Seluruh perabot terlihat usang dan klasik, banyak debu. Memang tak pernah dibersihkan bahkan ini kali pertama setelah sekian tahun lalu. Dingin, entah kenapa terasa aura yang aneh.

Sejak pukul empat sore tadi hujan deras tak hentinya, berhenti sejenak dan gerimis lagi. Karena ketiduran ia terlambat datang bersih-bersih. Beberapa menit kemudian hujan deras, sebab itu kakek bahkan belum mengambil sapu untuk bersih-bersih.

Petir yang bersautan menyambar, membatalkan niat kakek…

“Allahu Akbar… Allaaaahu akbar…”

Kilatan warna orange langit senja menembus tirai jendala yang tidak sempurna tertutup.

“Ah, wes maghrib to?”

Kakek semakin meringkuk dibawah sarungnya kembali, masih dingin pikirnya.

“Kning..knong..kning,..knong…”

Kakek hampir terperanjat kaget oleh suara gamelan yang tetiba berbunyi tidak beraturan. Ruang tengah rumah ini memang tempat penyimpanan alat musik tradisional, macam gamelan, kenong, gambang bahkan gong besar yang diletakkan di sudut ruangan. Semuanya masih tertata rapi meski sedikit berdebu.

Bertahun-tahun lalu sang empunya rumah adalah dalang wayang yang cukup terkenal, ia bahkan sering diundang dalam acara besar tahunan yang diadakan oleh pejabat setempat di daerahnya. Namun anehnya, disetiap sebelum memulai penampilannya sang dalang selalu meminta disiapkan sesembahan berupa ayam hitam dan kembang tujuh rupa beserta dupa yang telah dinyalakan.
Penampilan wayang yang didalangi mbah Warto, kerap membuat orang yang menyaksikan merasakan aura berbeda. Kabar santer terdengar kala itu jika, penampilannya mengundang roh-roh ghaib. Penonton bahkan akan terhipnotis dan menonton dari awal sampai akhir meski berlangsung hingga pukul 3 pagi.

Siapapun tahu, hanya kakek yang berada di rumah ini. Atau sepertinya tidak? Apa ada orang yang masuk dengans sengaja tadi? Sepertinya kakek tidak melihat siapapun melewatinya. Jelas, karena kakek berada di dekat pintu masuk, satu-satunya akses memasuki rumah ini.

Di atas ranjang besi tua dimana kakek merebahkan punggungnya ia mulai beranjak, baru saja kakek menurunkan sebelah kakinya ia malah dikejutkan dengan suara alunan indah alat musik tadi, lagi. 

Kali ini ada nada yang tertata, seolah ada seorang ‘maestro’ yang mengatur. Mengingatkan dengan tembang jawa yang biasa dialunkan kala pembukaan penampilan mbah Warto.

“Krieeet…”

Ranjang besi tua itu berderit kala kakek menggerakkan tubuhnya untuk beranjak dari atas ranjang. Kakinya menyentuh ubin, kakek tersentak untuk beberapa saat dan mengulanginya kembali kuntuk mencari sandalnya. Tak kunjung ditemukan akhirnya kakek merundukkan kepala mencarinya dibawah ‘Gerden’ besi tua itu.

Rupanya sandal itu berada tepat disebelah kaki ranjang, Kakek malah terpekur, sekelebat matanya menangkap seonggok berwarna hitam seperti ujung kain pel. ‘Ah, mungkin kain pel lama’ pikir kakek. Suara musik masih terdengar sayup-sayup semakin memelan dari sebelumnya. Seperti ada yang mengecilkan suara dengan remot control.

Kembali kakaek fokus dan berpikir, Mungkin karena terlalu lama, kain pel itu nampak hitam dari warna pada umumnya. Menumpuk seperti gundukan bulat yang memiliki tentakel disetiap sisinya.. Kakek berusaha mengapai kain pel itu, lumayan berat dari yang kakek pikirkan sebelumnya. Namun, ia tetap menariknya lalu…

Kakek kaget bukan main setelah mendapati apa yang dilihatnya di detik berikut setelah ia berhasil mengambil kain pel itu. Segerombol kecoak ternyata bersarang disana, bergegas kakek membuka pintu dan melemparnya keluar.

Masih bergidik ngeri, tak sengaja matanya bertemu tatap dengan lukisan lama mbah Warto. Lukisan bergambarkan Nyai roro kidul berbaju hijau itu sudah ada sejak sang empunya masih hidup dan memang dibiarkan disana hingga sekarang, bentuknya persegi panjang dengan ukuran sekitar 30x20 cm. Sekelebat ia melihat mata dalam lukisan tersebut berkedip, terpekur sejenak kakek terdiam.

Keingintahuan kakek mendorong untuk mendekat.

‘Braaaak…’

Hampir terjungkal, kakek terkejut bukan main dan mendapati jendela di sudut belakang terbuka. Sepertinya terkena angin yang berhembus cukup keras malam itu.

Kakek menutup kembali jendela. Rupanya hujan sudah redah, ia pun memutuskan untuk kembali kerumahnya bagaimanapun juga? Akhirnya ia jujur pada dirinya, menyerah saja. ‘Mari pulang malam ini!’ Batinnya.

Diambilnya sarung yang ia letakkan diatas Gerden, berjalan menuju jalan keluar dengan segenggam kunci ditangannya.

‘Kriet’

“Wah! Kudu didekei oli lawange iki!”, (Harus dikasih oli ini pintunya!) kata kakek sambil memperhatikan engsel pintu yang kering dan berkarat.

Tanpa dinanya, sebuah tangan hitam penuh luka, berbau busuk dipenuhi belatung. Tangan itu basah membuat sekelilingnya banjir akibat tetesan darinya. Tangan itu merambat, mulai menyentuh kaki kakek. Mendapati kakinya digerayangi sebuah tangan yang ternyata tanpa tubuh itu, kakek terkejut. 

Kemudian, hanya hitam….
….
…

Kakek terbangun pagi buta seperti biasa dikamarnya, berusaha menggapai seluruh kesadarannya. Ia teringat,

“Lah aku mau bengi po ora nang nggone mbah Warto? Lah kok wes enek kamar kene?”(Bukannya tadi malam aku di rumahnya mbah Warto? Lah, kok sudah ada dikamar sini?)

Ia berpikir berulang-ulang, kakek ingat benar. Dirinya berangkat saat gerimis sore itu.

“Lah, sopo seng junjung aku nang kene?” (Lah, siapa yang angkat aku kesini?).


Masih di Sidoarjo tercinta, Kotanya Via Vallen. Masih di Negeri yang sama, negerinya Via Vallen. Namun dari tanggal bulan dan tahun berbeda. 

Comments

Popular Posts