Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Nostalgia Sekolah Dasar, yang Emang Dasar Bikin Baperan
Dari kecil saya adalah seorang anak yang pemalu dan cenderung introvert, bahkan sangking tertutupnya sampai jarang ada tamu yang datang. Gak jelas okeh lupakan. Tetapi, tidak seperti introvert lain yang malah dihindari teman. Alhamdulillah, saya memiliki banyak teman meskipun awalnya mereka juga segan terhadap saya. Namun, dengan berjalannya waktu mereka mau berteman dengan saya.
Masa SD adalah masa yang terkadang terlupakan oleh orang-orang. Seperti kata pepatah atau orang pintar entah apalah itu dia berkata seperti ini "Masa terindah adalah masa SMA". Bagi saya, setiap masa yang terjadi dalam kehidupan saya adalah berarti dan tidak akan tergantikan oleh apapun di dunia ini. Ceile....
Meski masih kecil, salah satu teman saya sangat paham sekali dengan kepemimpinan. Ini mending kalau dia jadi ketua kelas. Nyatanya dia malah menjadi seorang yang otoriter dan memimpin temannya. Padahal dia sama sekali bukan ketua kelas waktu itu. Aku yang saat itu masih nggak tau apa-apa, culun, ileran, ingus kemana-mana serta kepala yang dilalerin karena nggak pernah keramaspun ikut ditindas sama dia. Bahkan menjadi bulan-bulanannya, bahkan tahun-tahunannya.
Kalau dihitung-hitung perkilonya (ekh) aku yang paling ditindas dikelas. Kalau di ukur pake level anak di kelas kayaknya aku nomer 40 dari 37 anak yang ada. *Hah. Ini beneran dan aku nggak bohong.
Allah mengkaruniakan aku semangat belajar. Karena aku yakin aku bisa dalam belajar sebab aku semangat belajar, bukan karena otakku yang pintar. Sama sekali enggak. Semangat belajar ini akhirnya membuatku selalu mendapat sepuluh besar urutan teratas dikelas. Selalu. In syaa Allah. Tetapi aku harus bersyukur dengan hasil tersebut karena pada kenyataannya aku tidak pernah bisa mendapat peringkat satu di kelas sepanjang 6 tahun di SD itu. Ada satu anak yang aku kira, takdirnya adalah menjadi peringkat satu sepanjang masa. Hingga kelas enam dia mendapat peringkat satu.
Ini semua mempengaruhi lingkungan terdekat aku. Karena hal inilah membuatku dekat dengan anak-anak yang berperingkat tinggi dikelas. Sama sekali tidak ada niatan dalam diri ini untuk membedakan teman, namun sifat pemaluku membatasi aku untuk bersosialisasi dengan orang lain. Jadi, aku hanya menunggu teman yang mau mendatangiku. Dan mereka adalah anak-anak peringkat tinggi sepuluh besar tersebut.
Alasan yang melatar belakanginya adalah dekat dengan anak pintar lain sama dengan nilaiku bagus juga di semester depan. Itu mungkin menjadi prinsip utama kita semua saat itu. Karena pikiran kita adalah sekolah sama dengan nilai bagus atau ibu akan marah.
Akhirnya, karena sering main bareng, ngerjain tugas bareng, ini itu bareng, jajan bareng, milih batagor bareng, serta bareng-bareng yang lainnya. Si anak ditaktor itu membuat nama geng untuk kita namanya "D'pinkers" dia terinspirasi dari salah satu ftv kesukaan dia. Sama sekali bukan tontonanku saat itu yang lebih suka nonton teletubies saat pulang sekolah. (Kalau sekarang kadang juga suka nonton, kalau alurnya bagus)
Aku yang saat itu masih polos, meng-iyakan saja apa yang ia katakan. Sejujurnya saat itu ada perasaan bangga dan bahagia. Karena merasa lebih keren dari anak lain yang nggak ikut geng itu. Rasanya level naik satu tingkat diatas mereka. (Pikiran anak kecil, maklum lah).
Kita kemana-mana bareng. Kalau jajan dan cari makanan si ketua harus yang nentuin harus beli apa. Padahal taraf beli anak SD saat itu palingan cireng atau nggak permen kaki, paling mahal nasi goreng bungkusan yang dijual di sekolah sebelah. Jadi jika si ketua pengen nasi goreng, maka semua anak harus juga mengikutinya. Dan membelikannya. Ujung-ujungnya aku dan satu temanku yang disuruh beli. Aku takut setengah mati untuk membeli nasi goreng itu karena yang jual adalah kantin sekolah sebelah dimana tempat para anak yang ganas-ganas dan menakutkan bersarang disana. Sumpah demi apapun ini adalah fakta yang aku takuti. kebanyakan siswa disekolah itu memiliki umur diatasku meski tingkat kelas kita sama, entahlah kebanyakan mereka murid pindahan dari daerah pelosok indonesia yang sepertinya telat bersekolah. lalu mereka merantau di Jawa dan dibiayai oleh salah satu panti asuhan yang ada di dekat sekolah itu.
Aku ingat, mereka selalu menang jika ada lomba agustusan antar sekolah. Lomba ini biasanya diantaranya lomba olahraga seperti, sepak bola, lempar lembing, lari, voli , dan masih banyak lainnya. Ya, tentu saja mereka banyak memenangkan lomba. dengan tubuh besar dan tinggi pasti dengan mudahnya mengalahkan murid-murid kecil dan imut dari sekolahku. Tentu saja, aku tidak ikut lomba itu. Tubuhku terlalu lemah untuk mengikuti lomba olahraga seperti itu. Jadilah aku sang pemandu sorak yang pendiam bersama beberapa teman yang tidak memiliki tubuh proposional layaknya atlet. Kumpulan kami terdiri dari si kurus, si pendek, dan si gedut, sebutlah seperti itu. tetapi, dengan bangga dan bahagia kami menikmati tugas kami tersebut.
Kembali ke cerita sebelumnya, aku dan temanku berjalan mengendap-endap kadang sampai lewat got (kering karena musim kemarau). Perlombaan agustus itu membuat terdapat dendam dalam diri kita (kepada anak sekolah sebelah itu). Jadi, yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan besar karena sudah melewati batas kekuasaan mereka. Dan, itu semua aku lakukan semata-mata karena di suruh oleh anak ditaktor itu.
Kehidupanku berlangsung seperti itu sampai aku lulus dari SD itu...
Aku ingat, mereka selalu menang jika ada lomba agustusan antar sekolah. Lomba ini biasanya diantaranya lomba olahraga seperti, sepak bola, lempar lembing, lari, voli , dan masih banyak lainnya. Ya, tentu saja mereka banyak memenangkan lomba. dengan tubuh besar dan tinggi pasti dengan mudahnya mengalahkan murid-murid kecil dan imut dari sekolahku. Tentu saja, aku tidak ikut lomba itu. Tubuhku terlalu lemah untuk mengikuti lomba olahraga seperti itu. Jadilah aku sang pemandu sorak yang pendiam bersama beberapa teman yang tidak memiliki tubuh proposional layaknya atlet. Kumpulan kami terdiri dari si kurus, si pendek, dan si gedut, sebutlah seperti itu. tetapi, dengan bangga dan bahagia kami menikmati tugas kami tersebut.
Kembali ke cerita sebelumnya, aku dan temanku berjalan mengendap-endap kadang sampai lewat got (kering karena musim kemarau). Perlombaan agustus itu membuat terdapat dendam dalam diri kita (kepada anak sekolah sebelah itu). Jadi, yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan besar karena sudah melewati batas kekuasaan mereka. Dan, itu semua aku lakukan semata-mata karena di suruh oleh anak ditaktor itu.
Kehidupanku berlangsung seperti itu sampai aku lulus dari SD itu...
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment