Skip to main content

Featured

Tak Tahu Lagi?

Tak Tahu Lagi?
(Tentang yang Disana, Inspirasi dan Mimpi)


Saat malam aku sendiri untuk menulis ini. Melihat Live Delay Pembukaan Asean Para Games 2018. Masih dengan kebingungan yang sama. Entah kenapa beberapa hari terakhir terasa aneh. Bahkan, diriku tak tahu ada apa? Tentang kemalasan yang tak bisa ku kontrol. Tentang inspirasi yang menjauh. Otakku tetap sama, ada disini. Ada di dalam kepalaku. Secara harfiah, otakku adalah milikku. Namun, entah kenapa? Aku tak pernah bisa mengendalikannya. Mengatur kapannya muncul inspirasi. Mengatur siapa orang yang harusnya ku pikirkan. Andaikata bisa, inginku atur otakku dengan tombol otomatis. Saat aku butuh inspirasi tak terduga. Atau saat ingin memikirkan seseorang. Entah sebab hati yang mempengaruhi. Tetiba, muncul pikiran seseorang yang terlarang bahkan hanya untuk dipikirkan. Aku benci ini. Aku benci perasaan ini. Aku bahkan benci menulis ini. Aku tak tahu lagi?

Bersama brondong jagung di pangkuanku. Rasa manisnya menempel di lidah, dengan kegamangan yang entah mengapa ku rasakan. Tentang dia yang jauh dan mustahil ku gapai. Aku berharap dia baik-baik saja, sehat selalu. Semoga dengan menulis ini, ada sebagian hati berharap dia bisa membaca. Aku tahu ini terlalu 'muluk'. Namun, tetap saja. Jika Allah katakan 'Iya'. Dia pasti akan membaca, suatu hari nanti. Satu-satunya yang ingin ku katakan adalah. Kembalikan motivasiku. Kembalikan kesadaranku. Aku harus menggapai mimpi. Tentang profesi apa, atau tentang dirinya yang diam-diam menjadi mimpiku juga. Ah, apa aku tidak seperti biasa? Rupanya endorphin ini telah membakarku. Menghilangkan kesadaranku. Aku tak tahu kapan. Aku yakin dia datang saat kesadaranku hanya separuh. Lalu, menelusup ketempat yang terdalam. Dan, membakarku habis bersama kesendirian. Aku tak tahu lagi? 

Lucunya, aku masih berharap ingin bertemu. Lagi-lagi tentang hal mustahil. Aku ingin tertawa dengan ketidakberdayaan ini. Menyedihkannya, hanya aku yang merasakan ini semua. Dia tentu tidak tahu. Haha. Selalu pengagum hanya menjadi pihak yang lemah. Walau tetap sebagian hati berharap lebih. Kalau kupikir lagi, sepertinya ini salahku sendiri. Aku membiarkan diri ini terkagum padanya, dulu. Mungkin itu saat pertama kali ku tanam bibit itu. Kemudian saat baru kusadar. Benih itu sudah berakar kuat. Sakit jika dicabut, percuma jika dipotong (akan tumbuh lebih besar). Rindu sendiri. Aku tak tahu lagi?

Di akhir kata, pertemuan adalah takdir. Ada hikmah di dalamnya. Apabila tidak bisa bertemu lagi juga adalah takdir. Setidaknya aku senang, bisa merasakan perasaan ini. Entah, aku juga bingung. Aku tak tahu lagi?

Sungguh, Aku tak tahu lagi?

Sidoarjo, 07 Oktober 2018

Comments

Popular Posts