Skip to main content

Featured

Benarkah Menguap Bisa Menular?

Mengapa Orang Lain Menguap Setelah Kita Menguap?


Foto di ambil dari : https://mymilk.com/milkeveryday/fun-fact/benarkah-anak-sering-menguap-karena-kurang-tidur lalu di edit sendiri
Rasanya rugi sekali tidak memanfaatkan wifi kampus setelah hanya belajar satu mata kuliah. Tidak seperti dulu saat disibukkan banyaknya kegiatan organisasi, mahasiswa tingkat akhir hanya sibuk menyusun masa depan (skripsi namanya). Seperti siang tadi. Wifi kampus seperti oase bagi keringnya kantong mahasiswa tingkat akhir ini. Saling menghibur satu sama lain, atas deadline yang sungguh kejam itu, kita banyak bercerita. Atas lelahnya melakukan itu semua dibawah tekanan, dan gelayut kemalasan yang menarik punggung untuk mencicipi nikmatnya kasur di kamar. 

Sembari mencari segala sesuatu di search engine dan duduk di lorong koridor, kita saling mendo’akan kebaikan kita satu sama lain. Bercanda, tertawa, receh, saling melempar guyonan dan tertawa lagi. Begitu terus berulang-ulang. Sampai kemudian, beberapa teman berpamitan, tersisa diriku dan dua temanku.

Dia menguap, detik selanjutnya diriku juga. Lalu kita tertawa.

Sampai rumah aku ingat, pernah baca masalah menguap dan tertular disebuah buku. Ku ingat-ingat buku apa? lalu mencarinya dijejeran buku yang berantakan sebab aku malas menatanya itu. 

Ketemu… Buku kesukaanku ternyata.

Tak sengaja dulu membelinya, sebab judulnya yang unik dan tak biasa itu. “ Kenapa Ingus Hijau?” karya Glenn Murphy yang masterpiece itu.

Dalam bab Menjadi Manusia poin itu dibahas..

Menguap ternyata sebuah reflek tubuh saat merasa kelelahan. Sama halnya mengedip dan menarik tangan dari sebuah benda yang panas. Bedanya menguap refleknya lebih lambat dari keduanya, sebab kita punya kendali untuk melakukannya atau tidak. Beda lainnya, kita tidak berkedip atau melompat menjauhi sebuah benda panas hanya karena orang lain melakukannya.

Dulu, aku mengira menguap sarana untuk mendapatkan oksigen sebanyak-banyak, ternyata keliru. Kita menguap sebagai sinyal memberitahu kita dan kelompok kita untuk berhenti dan beristirahat. Tidak hanya manusia ternyata, banyak hewan yang menguap juga. Sayangnya hanya simpanse satu-satunya hewan yang menguap setelah melihat kawannya menguap. Seperti aku dan temanku tadi. 

FYI, Murphy adalah seorang ilmuan sains. Dia pernah melihat hal ini saat penelitiannya.

Sebab, simpanse adalah satu-satunya hewan lain yang Murphy beserta kawannya teliti bisa mengenali dan memahami baik kondisi pikiran mereka sendiri maupun hewan lain, sesuatu yang kita sebut empati. Mencengangkan di dalam buku itu di jelaskan bahwa simpanse adalah kerabat terdekat kita yang masih hidup di dunia hewan. Bayi manusia baru menunjukkan tanda-tanda empati yang sesungguhnya saat berumur dua tahun karena saat itulah otak yang membuat mereka bisa bereaksi seperti itu baru terbentuk.

Jadi, hipotesa pertama semua itu adalah meski menguap pada awalnya adalah sinyal tubuh bahwa kita perlu tidur, menguap yang menular merupakan bentuk lain dari sinyal pembangkit empati pihak lain. 

Dengan begitu dapat dikatakan, ketika kita menguap, orang lain yang melihat kita dan tanpa disadari ia membayangkan betapa capeknya kita. Seandainya ia merasa agak capek juga, mereka akan membalas menguap, dan semua orang disekeliling kita bisa melihat bahwa kita berdua capek. Ada kemungkinan hal yang sama akan terjadi dan menjadi sebuah reaksi berantai. Dimana semua orang di sekitar kita menguap, secara bergantian!

Barangkali itu semua adalah evolusi. Misalnya zaman dahulu nenek moyang kita saling menunjukan respon ini dan memutuskan untuk istirahat atau terus maju. Dengan begitu anggota kelompok tidak ada yang tertinggal, mudah saat memutuskan berlari, menyerang atau bahkan menentukan sebuah situasi darurat. Tentunya untuk menjaga seluruh anggota kelompok tetap aman.

Lalu, dimasa sekarang apa masih ada sinyal seperti itu? Tentu. Misalnya tersenyum, tertawa, merengut, dan menangis juga menular. Dan, sekali lagi hanya simpanse dan manusia di atas usia tertentu yang seperti itu. Bisa jadi tersenyum atau tertawa memberitahu anggota lain dalam kelompok bahwa “Aku senang” atau “Aku baik-baik saja, jangan cemaskan aku”. Sebaliknya, merengut dan menangis bisa memberitahu kelompok bahwa, “Aku tidak senang” atau “Aku perlu sedikit perhatian”.

Dan, apakah manusia dan simpanse saling meniru satu sama lain seperti itu?
Pertanyaan kembali padamu, Apa yang kamu lakukan terakhir kali kamu melihat seekor simpanse tertawa?
.
.
Setidaknya menyikapi segala sesuatu jangan memakan lalu ditelan bulat-bulat. Tapi, saringlah dahulu. Aku tidak percaya nenek moyang kita simpanse atau gorila, seperti tulisanku di atas, tapi Murphy menulisnya seperti itu. (dia seorang ilmuan sains). Aku percaya nenek moyang pertamaku adalah Nabi Adam as. (dalam al-Qur-an). Murphy menjelaskan dibukunya juga secara mendalam di bab tentang evolusi (mungkin aku akan membahasnya lain kali).

Namun, aku tahu satu fakta yang pasti, entah sudah berapa kali aku menguap saat menulis ini? Sepertinya aku berhalusinasi saat melirik kasur yang melambai padaku dan berkata. “Sini kupijit punggungmu!”



Sidoarjo, pada malam hari saat gemuruh halilintar namun tak turun hujan. Semoga hari ini hujan dan berkah. Aamiin. (Jangan lupa menutup mulutmu saat menguap!!!) 


Comments

Post a Comment

Popular Posts