Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Share Makalah Moment
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Seorang
penganut empirisme perpendirian bahwa kita dapat memperoleh suatu pengetahuan
melalui pengalaman. Sebagai contohnya, seperti pada pertanyaan berikut ini.
“Bagaimanakah orang mengetahui es itu beku?” Jawaban kita tentu “ Karena saya
melihatnya demkian itu”, atau seseorang ilmuwan telah melihatnya demikian.”
Atau sama halnya terhadap pertanyaan.”Bagaimana orang mengetahui John Lennon
telah dibunuh?”, maka jawaban kita akan berbunyi, “ Karena seseorang yang ada
di tempat itu dan melihat kejadian tersebut, telah menerangkannya demikian”.
Dengan demikian dapat dibedakan dua macam unsur : ‘yang mengetahui’ dan ‘yang
diketahui’. Orang yang mengetahui merupakan subyek yang memperoleh pengetahuan
dan dikenal dengan suatu perkataan yang menunjukkan seseorang atau suatu
kemampuan.
Dapat
dibedakan dalam jawaban terhadap pertanyaan “Bagamana orang mengetahui bahwa es
itu membeku?” ialah keadaan kita bersangkutan degan ‘melihat’ atau ‘mendengar’
atau suatu pengalaman inderawi yang lain. Bagaimakah api itu panas? Dengan
menyentuh barang sesuatu dan memperoleh pengalaman yang kita sebut ‘panas’.
Bagaimanakah kita mengetahui pakah panas itu?” dijawab dengan menunjukkan
pengalaman-pengalama indrawi yang sesuai.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan empirisme?
2.
Siapa saja penganut-penganut empirisme?
3.
Apa pendapat mereka tentang empirisme?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui maksud dan pengertian
empirisme.
2.
Mengetahui tokoh-tokoh empirisme serta
hasil pemikirannya.
3.
Mengetahui pendapat mereka tentang
empirisme.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Empirisme
Empirisme telah memberi
tekanan pada empirik atau pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Istilah ini
berasal dari bahasa Yunani, imperia, yang berarti pengalaman indrawi. Oleh
sebab itu, empirisme lebih dititik beratkan kepada paham yang memilih
pengalaman sebagai sumber utama pengenalan yang dimaksudkan disini yaitu
pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang
menyangkut pribadi manusia saja. Empirisme sangat bertentangan dengan
rasionalisme. Masalah yang ramai dibicarakan, baik oleh rasionalisme di daratan
Eropa maupun empirisme yang merajalela di Inggris, adalah substansi.
Aliran ini muncul di
Inggris, yang pada awalnya dipelopori oleh Francis Bacon (1561-1626), kemudian
dilanjutkan oleh tokoh-tokoh pasca Descrates, seperti Thomas Hobbes
(1588-1679), John Locke (1632-1704), Barkeley (1685-1753), dan yang terpenting
adalah David Hume (1711-1776).
Pada penjelasan kali
ini kami akan menjelaskan pemikiran penganut-penganut empirisme.
B.
Penganut
Pemikiran Empirisme
1. John Locke (1632-1704)
John
Locke, bapak empirisme asal Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia
dilahirkan, akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa
berarti meja lilin), dan di dalam buku catatan itulah dicatat
pengalaman-pengalaman inderawi.[1]
Menurut Locke seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan
serta membandingkan ide-ide yang diperoleh dari pengindraan dan refleksi yang
pertama-tama dan sederhana tersebut.
John Locke adalah tokoh yang paling awal
dalam urutan empirisme Inggris, beliau adalah sosok yang paling konservatif dan
kurang menusuk dalam melesatkan pertanyaan keras empirisme.[2]
Dia berpendapat kalau peran empirisme akan tiba dalam perkembangan filsafat di
masa yang akan datang. Peran filsuf seperti yang diramalkan Locke: sebagai
buruh rendahan, membersihkan tanah, mengambil sampah. Sampah yang diambil para
filsuf yaitu sampah rasionalistik seperti tulisan-tulisan Plato, Saint thomas,
dan Descartes.
Lokce
termasuk yang orang mengaggumi Descrates, tetapi ia tidak menyetujui ajarannya.
Bagi, Locke, mula-mula rasio manusia dianggap sebagai “lembaran kertas putih” (as a white paper) dan seluruh isiya
berasal dari pengalaman.[3]
Bagi
Locke, pengalaman ada dua: pengalaman lahiriah (sensation) dan pengalaman batiniah (reflection).[4] Kedua
sumber penalaman ini menghasilkan ide-ide tunggal (simple ideas).
Pandangan
Locke mengenai lembaran putih manusia mirip sekali dengna teori fitrah dalam
filsafat Islam yang didasarkan atas pertanyaan al-Qur’an, surah ke-30 al-Rum
ayat ke-30. Fitrah adalah bawaan manusia sejak lahir yang didalamnya terkandung
tiga potensi dengan fungsinya masing-masing. Pertama fungsi ‘aql yang bberfungsi untuk mengenal
Tuhan, mengesakan Tuhan, dan mencintai-Nya. Kedua, potensi syahwat yang
berfungsi untuk menginduksi objek-objek yang menerangkan. Ketiga, potensi gadlab yang berfungsi untuk menghindari
segala yang membahayakan. Ketika manusia dilahirkan, ketiga potensi ini telah
dimilikinya. Namun demikian, agar potensi-potensi tersebut beraktualisasi perlu
ada bantuan dari luar dirinya. Dalam filsafat Islam, kedua orang tua anak yang
terlahir itulah yan pertama-tama berkewajiban memberikan pengetahuan untuk
aktualisasi potensi-potensi tersebut. Dengan lain kata, orag tualah yang
menggoreskan tulisan di atas lembaran putih si anak yang terahir itu.[5]
Buku
Locke, Essay Concerning Human Understanding (1689), ditulis berdasarkan
satu premis, yaitu semua pengetahuan datang dari pengalaman. Ini berarti
tidak ada yang dapat dijadikan idea atau konsep tentang sesuatu yang berada di
belakang pengalaman, tidak ada idea yang diturunkan seperti yang diajarkan oleh
Plato. Dengan kata lain Locke menolak adanya innate idea; termasuk apa
yang diajarkan oleh Descartes, Clear and distinc idea. Adequate idea dari
spinoza, truth of reason dari Leibniz, semua ditolaknya[6]
Teori Pengetahuan
Locke. Menurut sudut pandang Locke
semua ide pemikiran kita hanya ada satu sumber dan itu adalah pengalaman.
Sasarannya yakni utuk menunjukkan bahwa asal mula pengetahuan kita ada pada
pengalaman indra kita, melalui gambaran penerimaan akal yang dibuat oleh obyek
dari luar. Adapun satu-satunya sumber lain pengetahuan yaitu refleksi kita
terhadap pengalaman indra, seperti berpikir, ragu, dan yakin.[7]
2. George Barkeley (1665-1753)
Barkeley
yang lahir di Irlandia ini menjadi UskupAnglikan di Cloyne (Irlandia). [8]
sebagai penganut empirisme, Barkeley mengemukakan teori yang dinamakan
immaterialisme atas dasar prinsip-prinsip empirisme. Ia berpendapat bahwa sama
seklai tidak ada subtansisubtansu material, yang ada hanyalah pegalaman ruh
saja. Esse estpercipi (being is being
perceived), yang artinya, dalam dunia material sama saja dengan ide-ide
yang saya alami. Sebagaimana di bioskop, gambar-gambar film pada layar putih
dilihat pada para penonton sebagai benda-benda yang riil dan hidup. Menurutnya
ide-ide membuat saya melihat suatu dunia material.
Barkeley
mengakui bahwa aku merupakan suatu subtansi ruhani. Ia juga mengakui adanya
Allah, sebab Allahlah yang merupakan asal-usul ide-ide yang saya lihat. Jika
mengatakan bahwa Allah menciptakan dunia, yang kita maksud adalah bukan berarti
ada suatu dunia di luar kita, melainkan bahwa Allah member petunjuk atau
mempertunjukkan ide-ide kepada kita. Jika kita memahami perbandingan wujud ini
dengan film seperti diatas tadi maka boleh kita teruskan bahwasanya Allah-lah
yang memutar film tersebut.
3. David Hume (1711-1776)
Menurut
para penulis sejarah filsafat, empirisme berpuncak pada David Hume ini, sebab
ini menggunakan prinsip-prinsip empiristis dengan cara yang paling radikal.
Terutama pengertian substansi dan kaulitas (hubungan sebab-akibat) menjadi
obyek kritiknya.[9]
Ia tidak menerima subtansi, sebab yang dialami ialah kesan-kesan saja tentang
beberapa ciri yang selali terdapat bersama-sama (misalnya, putih, licin, erat,
atau sebagainya). Tetapi, atas dasar pengalaman tidak dapat disimpulkan bahwa
dibelakang ciri-ciri itu masih ada suatu substansi tetap (misalnya, sehelai
kertas yang mempunyai ciri-ciri tadi). Sebagai seorang empirisme, Hume Nampak
lebih konsekuen daripada Barkeley.
Hume
adalah seorang yang menguasai hukum, satra, dan filsafat. Karya terpentingnya
ialah anencuiry concercing human understanding. Pemikiran empirisnya
terakumulasi dalam ungkapannya yang singkat yaitu I never catch my self at
any time with out a perception (saya selalu memiliki persepsi pada setiap
pengalaman saya). Dari ungkapan ini Hume menyampaikan bahwa seluruh pemikiran
dan pengalaman tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan (impression).
Pemikiran
ini lebih maju selangkah dalam merumuskan bagaimana sesuatu pengetahuan
terangkai dari pengalaman, yaitu melalui suatu institusi dalam diri manusia dan
kemudian menjadi pengetahuan. Disamping itu pemikiran Hume ini merupakan usaha
analisis agar empirisme dapat dirasionalkan
terutama dalam pemunculan ilmu pengetahuan yang didasarkan pada
pengamatan (observasi) dan uji coba (eksperimen) kemudian menimbulkan
kesan-kesan, pengertian-pengertian, dan akhirnya pengetahuan.
Empirisme
menganjurkan agar kita kembali kepada kenyataan yang sebenarnya (alam) untuk
mendapatkan pengetahuan, karena kebenaran tidak ada secara a priori di
benak kita, melainkan harus diperoleh dari pengalaman. Melalui pandangannya,
pengetahuan yang hanya dianggap valid adalah bentuk yang dihasilkan oleh fungsi
panca indera selain dari padanya adalah bukan kebenaran/omong kosong. Dan
mereka berpendapat bahwa tidak dapat di buat sebuah klaim (pengetahuan) atas
perkara di balik penampakan, baik melalui pengalaman faktual maupun
prinsip-prinsip keniscayaan. Artinya dimensi pengetahuan hanya sebatas persentuhan
alam dengan panca indera, di luar perkara-perkara pengalaman yang dapat
terserap secara fisik adalah tidak valid dan tidak dapat diketahui dan tidak
dianggap keabsahan sumbernya.
Usaha
manusia untuk mencari pengetahuan yang bersifat mutlak dan pasti telah
berlangsung dengan penuh semangat dan terus menerus. Walaupun begitu, paling
tidak sejak zaman aristoteles, terdapat tradisi epistemologi yang kuat untuk
mendasarkan kepada pengalaman manusia, dan meninggalkan cita-cita untuk mencari
pengetahuan yang mutlak tersebut. Doktrin empirisme merupakan contoh dan
tradisi ini.
Kaum
empiris berdalil bahwa adalah tidak beralasan untuk mencari pengetahuan mutlak
dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita, terdapat kekuatan yang
dapat dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat
lebih lambat namun lebih dapat diandalkan. Kaum empiris cukup puas dengan
mengembangkan sebuah sistem pengetahuan yang mempunyai peluang yang besar untuk
benar, meskipun kepastian mutlak takkan pernah dapat di jamin.
Kaum
empiris memegang teguh pendapat behwa pengetaguan manusia dapat diperoleh
melalui pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang empiris
bahwa sesuatu itu ada dia akan berkata “tunjukkan hal itu kepada saya”. Dalam
persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh pengalamannya sendiri.
Jika kita mengatakan kepada dia bahwa ada seekor harimau dikamar mandinya,
pertama dia minta kita untuk menceritakan bagaimana kita sampai pada kesimpulan
itu. Jika kemudian kita terangkan bahwa kita melihat harimau itu dalam kamar
mandi, baru kaum empiris akan mau mendengar laporan mengenai pengalaman kita
itu, namun dia hanya akan menerima hal tersebut jika dia atau orang lain dapat
memeriksa kebenaran yang kita ajukan, dengan melihat harimau itu dengan mata
kepalanya sendiri.
Dua
aspek dan teori empiris terdapat dalam contoh di atas tadi. Pertama adalah
perbedaan antara yang mengetahui dan yang diketahui. Yang mengetahui adalah
subyek dan benda, yang diketahui adalah obyek. Terdapat alam nyata yang terdiri
dan fakta atau obyek yang dapat di tangkap oleh seseorang.
Kedua adalah, kebenaran
atau pengujian kebenaran dan fakta atau obyek didasarkan kepada pengalaman
manusia. Agar berarti bagi kaum empiris, maka pernyataan tentang ada atau tidak
adanya sesuatu haruslah memenuhi persyaratan pengujian publik.
Teori Pengetahuan Hume:
a. Landasan Segala Pengetahuan
Dalam landasan ini Hume
mempelajari ilmu pengetahuan tentang manusia, ilmu tentang sifat alamiah
manusia, merupakan proses mempelajari landasan segala pengetahuan manusia. Apa
yang ingin dilakukan Hume adalah bertanya, dengan memperhatikan segala
pengetahuan kita: 1) bagaimana anda tahu, apa yang menjadi asal mula
pengetahuan? 2) apa yang menjadi batasan manusia? Pertanyaan itu merupakan yang
diajukan para penganut empirisme, Hume akan memdesak mereka terus menerus dan
tanpa berhenti melakukannya. Dan dia telah mengetahui apa yang dia tunjukkan:
bahwa kita tidaklah memiliki pengetahuan, melainkan sekedar keyakinan bahwa
yang kita rasakan itu benar.
b. Kritik Keras atas Doktrin dua jenis
pengetahuan
Dalam teori ini Hume
bertujuan untuk menanyakan apa yang menjadi landasan segala pengetahuan adalah
untuk menunjukkan bahwa hanya ada satu landasan, berisi satu jenis satu
pengetahuan saja, pengetahuan oleh persepsi panca indra. Dia bermaksud
membantah keyakinan filsafat lama bahwa ada dua jenis pengetahuan. Plato dan
descartes berpendapat dari anggapan bahwa ada dua jenis pengetahuan yakni:
pengetahuan biasa dengan dengan persepsi panca indra, ada jenis pengetahuan
yang sumbernya pemikiran. Akan tetapi Hume membantah bahwa ada dua jenis
pengetahuan. Bahwa ada jenis pengetahuan tingkat atas yang bisa dicapai filsuf
dengan akalnya, pengetahuan metafisika gagasan ini dia katakan hanya
benar-benar metafisika pasti hanyalah omomng kosong, termasuk doktrin dasarnya
bahwa ada dua jenis pengetahuan, pengetahuan biasa dengan persepsi panca indra
dan pengetahuan metafisika tingkat tinggi dengan pemikiran atau akal.
c. Persepsi pengindraan: kesan dan
Gagasan
Hume mengemukakan mengenai teori persepsi
pengindraan , yang menurutnya merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang
kita miliki, sedangkan apa yang bisa diketahui sangatlah terbatas? Kandungan
kesadaran secara umum dinamakannya (descartes menamakannya ide). Dia membagi
persepsi menjadi kesan dan gagasan.
Kesan adalah sensasi, hasrat, dan emosi
seketika, data dari perbuatan melihat, menyentuh, mendengar, keinginan,
mencintai. Gagasan adalah gambar salinan atau samar dari kesan, misalnya apa yang
kita dapatkan waktu berpikir atau mengingat kesan seketika kita. Hume
mengatakan bahwa perbedaan kesan dan gagasan adalah kesan memiliki kekuatan dan
kenampakan yang lebih besar. Kesan memasuki kesadaran kita “kekuatan dan
kekerasan” yang lebih besar. Sebaliknya, gagasan hanyalah gambar dari kesan
kita, yang terdapat didalam pikiran kita, penalaran, pengingatan. Misalnya,
jika anda melihat ruangan dimana anda berada, maka anda memperoleh kesan
mengenai ruangan itu, sensasi akan ukurannya, kursi, meja, karpet, dan
barang-barang lainnya.
Disini Hume membuat suatu argumen empiris
yang penting bahwa kesan yang didapat
panca indra.
d. Prinsip-prinsip Empirisme
Prinsip dasar yang ditetapkan Hume
“segala gagasan sederhana kita pada awalnya dihasilkan dari kesan yang
sederhana yang berkaitan dengan gagasan itu dan yang benar-benar mewakili
kebenarannya.” Jika tidak ada kesan maka tidak ada gagasan. Jadi aturan
empirisme Hume bukan hanya uji kelayakan gagasan kita sebagai pengetahuan (jika
tidak ada kesan, maka gagasan tidak akan berarti) namun juga merupakan
pengujian atas makna gagasan kita (jika tidak ada kesan, maka gagasan tidak
bermakna).
e. Penggabungan Gagasan
Gabungan gagasan kita berdasarkan pada
tiga ciri gagasan, dan cenderung membawa pikiran kita dari suatu gagasan ke
gagasan lain. Hukum pertama adalah bahwa gagasan tergabung
atau terkait oleh kemiripan antar gagasan. Jadi dengan mudah pikiran kita
berpindah dari suatu gagasan ke gagasan lainnya yang mirip. Contoh bahwa
“sebuah lukisan dengan mudah membawa pikiran kita ke obyek aslinya”.[10]
Hukum kedua
adalah kedekatan. Kedekatan satu gagasan dengan gagasan lainnya dalam hal
ruang dan waktu. Pikiran kita cenderung menggabungkan satu gagasan dengan
gagasan lainnya yang secara fisik dan jasmaniah. Contohnya menyebutkan satu
apartemen dalam sebuah gedung, “umumnya membawa kita berpikir mengenai
apartemen lainnya”.
Hukum ketiga
adalah sebab dan akibat. Misalnya seperti jika kita memikirkan luka, kita
jarang sekali mencegah diri kita untuk merasakan rasa sakit, gagasan mengenai
luka membawa kita dalam penggabungan gagasan tadi ke gagasan akibat dari luka,
rasa sakit. Dan diantara tiga hukum ini, kata Hume, penggabungan gagasan
menggunakan sebab dan akibat merupakan penggabungan gagasan yang paling kuat.
f. Hukum Psikologi Penggabungan
Gagasan
Hume mnyimpulkan, gagasan keterkaitan
wajib antara sebab dan akibat bukan pada obyek yang kita amati, melainkan hanya
pada pikiran kita. Sebagai seorang penganut empirisme yang radikal dan eksterm
dia telah menjatuhkan pandangan bahwa ilmu pengetahuan telah mengungkapkan
hukum sebab-akibat alam, seperti hukum gravitasi. Hume menunjukkan bahwa
pentingnya sebab-akibat bukanlah hubungan obyektif antara benda-benda yang bisa
diteliti oleh seorang ilmuan, namun merupakan dorongan subyektif untuk
mengaitkan sesuatu dengan hukum psikologis penggabugan, dan hubungan
sebab-akibat tidak bersumber pada kesan indra, melainkan pada hukum psikologis
kita sendiri.[11]
g. Dua Macam Dalil
Bagi Hume hanya ada dua macam dalil,
yakni persoalan fakta dan hubungan antar gagasan. Persoalan fakta yakni hanya
berisi kesan dan gagasan kita. Tidak ada keharusan bahwa kesan tertentu akan
mengikuti kesan lainnya dan fakta itu adalah sebuah keharusan. Dan dalil yang
kedua yakni hubungan antar gagasan. Logika an matematika, khususnya aritmatika,
geometri, dan aljabar, memberi kita pengetahuan mengenai hubungan antar
gagasan. hubungan ini adalah bidang kepastian. Dalil matematika memang dengan
sendirinya terbukti dan secara pasti, dan bisa dibuktikan dengan penalaran
deduktif untuk mendapatkan kepastian lengkap.
Pebedaan hume antara dua macam pernyataan
atau dalil terus dipakai oleh para penganut empirisme abad XX. Dalilnya yang
menyatakan hubungan antar gagasan saat ini dinamakan dalil analitis. Dalil yang
menyatakan persoalan fakta saat ini dinamakan dalil sintesis.
h. Batasan Pengetahuan
Salah satu tujuan Hume adalah mengungkap
batasan manusia. Sejauh apapun pengetahuan kita mengenai alam fakta yang kita
kaji, kita terbatas pada kesan atomis kita dan gagasan penghubungnya. Kesan dan
gagasan ini muncul berulang-ulang dalam pengalaman kita. Kita tidak memiliki
cara mengetahui apa yang menjadi sebab kesan dan gagasan tersebut. Kita tidak
mengetahui bahwa dunia luar itu ada, bahwa tuhan itu ada. Gagasan menipu dan
tanpa makna ini merupakan karya imajinasi, kita tidak memiliki kesan indra atas
gagasan-gagasan tersebut. Pengetahuan kita terbatas pada kesan indra kita.[12]
4. Edmund
Burke (1729-1797)
Edmund
Burke, adalah seorang tokoh filsuf dan politisi Inggris. Både som politiker og som filosof angreb
Edmund Burke rationalistiske synspunkter ud fra en empiristisk og konservativ
grundholdning. Baik sebagai politisi dan filsuf serangan Edmund Burke
rasionalis di lihat dari sebuah empiris dan sikap dasar konservatif.
Burke
fastholdt traditionen frem for rationel planlægning.Burke lebih
mempertahankan tradisi dari pada perencanaan rasional. I sit berømteste værk Reflections on the Revolution in
France (1790, Tanker om Den Franske Revolution) afviser han enhver abstrakt
idé om frihed som ledetråd for politisk handlen, hævder, at lighed er imod
naturen, og forkaster idéen om broderskab som forvirret. Dalam gerakan
karyanya yang paling terkenal adalah pada Revolusi Perancis (1790), ia
menolak ide abstrak kebebasan sebagai panduan untuk tindakan politik, mengklaim
kesetaraan yang melawan alam, dan menolak ide persaudaraan sebagai hal yang
membingungkan. Den moderne britiske
konservatisme anses i almindelighed for at være grundlagt af Edmund Burke.
Konservatisme Inggris modern umumnya dianggap didirikan oleh Edmund Burke.
Burke udfoldede sin politiske
karriere 1765-82 som sekretær for lord Rockingham , der var leder af en whig-gruppering, og 1774-94 som medlem af
Underhuset.Burke mengembangkan karir politiknya 1765-1782 sebagai sekretaris Rockingham, yang
merupakan pemimpin dari Whig-pengelompokan dan 1774-1794 sebagai anggota DPR. Han gjorde sig bemærket ved sine advarsler
mod kongeligt magtmisbrug og for sine indlæg i kolonispørgsmål, hvor han
anbefalede respekt for nedarvede traditioner og eksisterende institutioner, men
fleksibilitet i de konkrete situationer. Ia diperhatikan oleh peringatan
melawan penyalahgunaan kekuasaan kerajaan dan untuk masalah kolonial pasca mana
ia direkomendasikan menghormati tradisi leluhur dan institusi yang ada, tetapi
fleksibilitas dalam situasi tertentu.
Dalam pidatonya, 1774-1775, ia mengkritik keras kepala pemerintah terhadap
koloni Amerika pemberontak. Han var
tilhænger af en lempeligere kurs over for de irske katolikker. Dia
mendukung tingkat yang lebih menguntungkan terhadap umat Katolik Irlandia. I 1781-83 engagerede han sig i en
administrationsreform i Indien og stod i 1787 bag en opsigtsvækkende
rigsretssag mod Bengalens tidligere guvernør Warren Hastings . Pada
1781-1783 ia terlibat dalam reformasi administrasi di India dan berdiri pada
tahun 1787 di belakang impeachment sensasional dari mantan Gubernur Bengal Warren Hastings.
Som filosof er Edmund Burke
især kendt for On the Sublime and the Beautiful (1756, Om det sublime og det skønne ), hvori han forkaster den klassicistiske æstetiks forestilling om, at et kunstværk virker ved sin klarhed og sin
regelbundethed. Sebagai filsuf Edmund Burke terutama dikenal di Sublime dan Indah
(1756, Pada luhur dan yang indah), di mana ia menolak neo-klasik estetika gagasan bahwa sebuah karya karya seni oleh kejelasan
dan keteraturan nya.
Det virker tværtimod ved sin
ubegribelighed og uafsluttethed, hævder han. Ia bekerja sebaliknya, dengan tidak
dimengerti dan inconclusiveness, ia
berpendapat. Edmund Burkes lære om, at
oplevelsen af det ophøjede, som netop er grænseløst, er iblandet frygt, fik
betydning for Immanuel Kants opfattelse af æstetik. Edmund Burke belajar tentang pengalaman luhur, yang
memiliki hanya terbatas, dicampur dengan rasa takut, menjadi penting bagi Immanuel Kant konsepsi estetika.
EeEDKDD
5. Voltaire (1694-1778)
Tokoh
liberalisme perancis yang bernama asli Francois Marie Arout ini merupakan
pemikir sekaligus penilik dalam bidang sastra, seni, puisi, maupun sejarah.
Beliau lahir di Perancis pada tahun 1694. Sejak masih mudah namanya sudah
terkenal di Perancis. Aktifitas pemikirannya yang sangat revolusioner
menyebabkan ia harus keluar masuk penjara. Hidup di zaman Raja Louis XIV harus
berpindah-pindah tempat karena selalu mendapat ancaman dari penguasa. Mulai
dari perpindahannya ke Inggris, Russia, Swisss, hingga akhir hayatnya kembali
lagi ke pinggiran Prancis.[13]
Dari
perjalanan yang pajang inilah, tokoh liberalisme Perancis ini mulai menemukan
kehidupan berbeda di tempat kelahirannya. Persentuhan dengan pemikiran filsuf
inggris, seperti John Locke, Francis Bacon, maupun David Hume seorang filsuf
penganut empirisme yang sangat berpengaruh pemikirannya.
Voltaire
mendapati kehidupan demokrasi yang sangat indah di Inggris. Pemikiran John
Locke tentang negara mempengaruhi sebagian besar gagasan Voltaire mengenai
kebebasan. Ini sangat menentang fanatismeagama serta hal-hal bertentangan
dengan kemanusiaan. Gagasan Voltaire mengenai kebebasan berpendapat serta
liberalisme berpengaruh kuat terhadap munculnya revolusi Prancis pada tahun
1789. Bahkan Jean Jaques Rousseau banyak mengambil dari pemikiran voltaire yang
hidup sezaman.
Sebagai
penganut faham relativisme, tokoh liberalisme Prancis, Voltaire, meyakini bahwa
kebenaran maupun keutamaan selalu terikat ruang dan waktu. Dari relativisme
inilah, Voltaire berangkat menuju gagasan liberalisme. Ia melihat dalam
pandangan sejarahnyabahwa tidak ada masa yang disebut zaman terbaik. Setiap
waktu dan tempat memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Oleh sebab
itu, Voltaire menolak fanatisme agama yang terkadang mengagung-agungkan
kejayaan masa lalu. Selain itu, pandangan hidup manusia akan selalu dipengaruhi
oleh situasi ketika falsafah itu diciptakan.
Gagasan
ini tidak jauh berbedah dengan etika relatifisme. Kalangan yang menganut ajaran
etika relatifisme mempercayai bahwa segala hal, termasuk norma dan etika,
adalah ciptaan manusia dan dipengaruhi oleh latar belakang berbeda-beda. Dengan
demikian, pandangan mengenai kebaikan maupun keburukan dalam setiap masyarakat
pasti akan selalu berbeda pula. Persentuhannya dengan pemikiran Franci Bacon
membawa ia pada empirisme radikal.[14]
Setiap
kebenaran, menurutnya, selalu harus dibuktikan dan diuji. Sama seperti
pendahulunya di Prancis, Rene Descartes. Setiap pernyataan ataupun dalil, mesti
dicek terlebih dahulu agar kita sampai pada simpulan yang benar.
Secara
tegas, Voltaire mengikuti faham empirisme bahwa praktik pembuktian akan lebih
berguna dari pada teori semata. Pengetahuan yang diperoleh dari pengujian akan
dapat dibuktikan kebenaran maupun kesalahannya sehingga dapat dipegang sebagai
pandangan.[15]
6.
Denis Diderot (1713-1784)
Denis
Diderot, ia lahir di Langres, Champagne, Prancis
pada tahun 1713.
Diderot
adalah seorang siswa yang cerdas di Kolese Jesuit. Dia berangkat dari kota kelahirannya menuju Paris pada
usia
mudanya yaitu 19 Tahun, pada tahun 1747 dia bertemu banyak pemikir dan menjadi editor Ensiklopedi.
Sejak
saat itulah dia telah menunjukkan reputasinya dalam keberaniannya secara orisinil. Bidang pelajaran yang dia minati adalah matematika,
ilmu-ilmu yunani (filsafat), bahasa Itali, Bahasa Inggris. 1749, pada waktu Ensiklopedinya siap dicetak, dia
mempersiapkan sebuah tulisan surat kepada orang yang buta. Dalam tulisan itu dia menanyakan eksistensi dari tujuan atau desain dalam universalitas.
Hal itu dikarenakan dia harus menikmati masa-masa tidak nyaman di penjara, apalagi setelah dia diketahui sebagai seorang ateis.
Dari
sini Diderot juga dikenal sebagai pemikir aliran materialisme.[16]
Diderot
dikenal sebagai penulis cerpen yang berdaya cipta tinggi, dialog dan novelis,
pioner dalam kritik seni, dekat dengan para siswanya dalam pemikiran, peneliti
yang canggih, seorang yang rajin, editor yang tekun, dan handal dalam biologi
serta metafisika.
Pertama
kali dia adalah pembela teisme, namun kemudian dia berubah aliran kepada
panteisme. hal ini disebabkan karena pengalamannya dalam menganalisa atom-atom
dan bahkan benda-benda non organik yang sangat sarat dengan perasaaan. selain
itu, juga mengembangkan organisme. Bagi dia, teleologi harus memberikan
jalan untuk mendeskprisikan sains. Diderot memulai dari
diri masing-masing orang, di mana dia berefleksi dalam dirinya sendiri, sebuah
proses alamiah untuk menyetujui sikap-sikap tertentu, konsekuensi atasnya namun
tidak melihat kualitas dari sisi alasan dan perasaan lain dari dirinya. Inilah
yang disebut insting. insting ini tidak berhubungan dengan organ tubuh. Ini
adalah ranah “kejiwaan” itu sendiri sebagaimana kekuatan kita dalam menghakimi
dan beralasan, alasan hanya sebuah bentuk kekuatan dari akhir pertimbangan dari
persepsi atau kehendak. Alasan hanya salah satu petunjuk kepada beberapa arti.
atau membandingkan dua akhir sebelumnya yang dipengaruhi oleh kekuatan lain
yang muncul dengan spontan.[17]
Dalam
lingkaran para pemimpin Pencerahan, nama Diderot yang dikenal terutama oleh
Lettre sur les nya aveugles (London, 1749), yang mendukung teori Locke tentang
pengetahuan. Dia dibebaskan oleh pengaruh Voltaire, Posisinya secara bertahap
berubah dari teisme ke deisme, kemudian ke materialisme, dan akhirnya
beristirahat di sensualisme panteistik.[18]
7.
J.J. Rousseau
Rousseau
lahir di Geneva pada 28 Juni 1712. Pada 4 Juli 1712, Rousseau di babtis sebagai
seorang pengikut Kalvinisme. Namun, sayangnya, dua hari kemudian, ibunya
meninggal. Pada waktu itu, ibunya masih berumur 40 tahun. Menurut Dent, salah
satu komentator Rousseau, peristiwa ini amat mempengaruhi hidup Rousseau. Gaya
reflektif dan pemahamannya soal hubungan antar manusia amat diwarnai oleh
peristiwa ini.[19]
Ayah Rousseau adalah seorang tokoh ternama di
Geneva. Sebagaimana di catat oleh Dent, pada masa itu, Geneva memiliki tiga
jenis penduduk. Ayah Rousseau adalah warga kota penuh. Maka, ia memiliki hak
untuk aktif di dalam politik. Penting juga untuk dicatat, bahwa jumlah warga
negara penuh di Geneva pada masa itu kurang dari sepuluh persen dari jumlah
total penduduk.
Pada tahun 1728, Rousseau mengalami peristiwa yang
mengejutkan. Pada waktu itu, ia sedang berjalan-jalan di luar gerbang kota.
Namun, ketika ia pulang, ia melihat pintu gerbang kota telah tertutup. Ia pun
membuat keputusan ganjil, yakni memutuskan untuk pergi meninggalkan kotanya
saat itu juga, tanpa pertimbangan, dan tanpa persiapan apapun. Ia “ingin
mencoba kesempatannya di dunia yang lebih luas”.
Sekitar tahun 1762 Rousseau menulis salah satu karya
terbesarnya, yakni The Social Contract.
Buku itu disambut dengan meriah oleh berbagai kalangan. Ia bahkan di minta
untuk menuliskan konstitusi untuk Corsica pada 1764 dan Polandia pada 1771.
“Jika Corsica tidak diinvasi, dan Polandia tidak pecah”, mungkin saja, di akhir
abad 18, kita bisa melihat penerapan prinsip-prinsip Kontrak Sosial di
konstitusi negara yang nyata. Sebenarnya, inilah cita-cita Rousseau, yakni
mengawinkan teori dan praktek politik praktis. Ini jugalah yang membuatnya amat
dikagumi oleh para pemikir lainnya, terutama oleh para pemikir pencerahan.
Berbeda dengan Filsafat Politik Plato, yang berbicara tentang praktek-praktek
ideal suatu negara, filsafat politik Rousseau berbicara tentang situasi konkret
tempat tinggalnya, dan bagaimana sebaiknya tempat itu dikelola dengan
prinsip-prinsip yang tepat.
Di sisi lain, banyak juga pihak yang marah dengan
tulisan tersebut, Rousseau menegaskan antara agama dan politik sangat
berkaitan. Artinya, orang berpolitik haruslah menggunakan semangat yang sama, seperti
orang beragama, yakni melihat tugas-tugas politik sama sucinya dengan
tugas-tugas suci agama yang melibatkan keberadaan Tuhan. Pandangan ini menuai
banyak kritik, baik dari kalangan agama, maupun dari kalangan para pemikir
sekular. Di mata para filsuf pencerahan, Rousseau dianggap sebagai penjilat
yang masih berpihak pada tradisi kuno, yakni agama. Di mata kaum agamawan, ia
dianggap sebagai pemikir bejat yang menyamakan agama dengan kekotoran dunia
politik. Namun, posisinya sebenarnya adalah pada komitmen pencerahan itu
sendiri, yakni penggunaan akal budi dalam kehidupan pribadi, maupun kehidupan
publik. Karya-karyanya terus mengalami sensor. Di Paris, buku-buku Rousseau
dilarang terbit. Bahkan, buku-buku itu dibakar di jalan-jalan kota Geneva. Pada
1762, ia menjadi buronan para penegak hukum. Ia dibenci, baik oleh kaum
agamawan, maupun oleh para pemikir Pencerahan. Dua kelompok yang pada masa-masa
itu juga saling bertentangan.
Pada 1763, Rousseau mendapatkan perlindungan dari
Frederick, penguasa Prussia (Jerman) pada masa itu. Pada saat yang sama, ia pun
melepaskan kewarganegaraannya di Geneva. Di Prussia, ia seringkali harus
menggelandang, karena tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Rousseau pada
masa-masa itu seringkali mengalami ketakutan berlebihan atas niat-niat
orang-orang di sekitarnya. Ia merasa, bahwa semua orang memiliki niat jahat
padanya. Pada 1766, ia menemukan pelindung baru, yakni David Hume di Inggris.
Di sana, Rousseau tinggal lebih dari 18 bulan, terutama di Wootton,
Staffordshire, Inggris. Namun, kecemasan dan ketakutannya terus ada, dan
semakin bertambah. Ia selalu merasa, semua teman-temannya, termasuk Hume dan
para pemikir pencerahan di Prancis lainnya, bersekongkol untuk menjatuhkannya.
Kecemasan dan ketakutan ini sungguh membuat hidup Rousseau menderita. Pada
masa-masa yang sama, berbagai tulisan lahir dari tangannya, mulai dari tentang
musik, botani, puisi, sampai karya-karya tentang pendidikan. Ia juga menulis
autobiografi perjalanan hidupnya sendiri. Perasaan cemas, takut, dan kebencian
pada orang-orang yang mengejarnya membuatnya harus kembali melarikan diri ke
Paris bagian Utara, yakni di Ermenonville. Di tempat inilah, ia mengalami
pendarahan, dan meninggal dalam diam. Namun, banyak orang menduga, Rousseau
membunuh dirinya sendiri.
Menurut Nicholas Dent, di dalam bukunya tentang
Rousseau, perjalanan hidup Rousseau dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian
pertama adalah 1712-1749. Ini adalah masa-masa penempaan awal Rousseau sebagai
seorang pemikir. Pada masa-masa ini, ia banyak menulis soal musik. Bagian kedua
adalah masa pendewasaan, yakni 1750-1764. Pada masa-masa ini, banyak
karya-karya terbaik Rousseau terbit. Diantaranya adalah Discourses, La Nouvelle Héloïse, Émile, The Social Contract, dan Letter to d’Alembert. Bagian ketiga
adalah 1764-1768. Di masa ini, ia mengalami banyak gangguan mental. Pada masa
ini pulalah ia menulis The Confession, autobiografinya yang terkenal.
Meski
pengetahuan yang dilandasi oleh pengalaman tersebut dapat dikatakan benar,
namun kelemahan pada aliran ini cukup banyak, berikut kelemahan-kelemahan yang
ditimbulkan empirisme,
a.
kelemahan pertama ialah indera terbatas. Benda yang jauh
kelihatan kecil. Apakah benda itu kecil? Tidak, keterbatasan indera inilah yang
dapat melaporkan objek tidak sebagaimana adanya, dari sini akan terbentuk
pengetahuan yang salah.
b.
Kelemahan kedua ialah indera menipu, pada orang yang sakit
malaria, gula rasanya pahit, udara panas dirasakan dingin. Ini akan menimbulkan
pengetahuan empiris yang salah juga.
c.
Kelemahan ketiga ialah objek yang
menipu, contohnya ilusi, fatamorgana. Jadi, objek itu sebenarnya tidak
sebagaimana di tangkap oleh panca indera, ia membohongi indera. Ini jelas dapat
menimbulkan pengetahuan inderawi yang salah.
d.
kelemahan keempat berasal dari indera
dan objek sekaligus. Dalam hal ini indera (mata) tidak mampu melihat seekor
kerbau secara keseluruhan, dan kerbau itu juga tidak dapat memperlihatkan
badannya secara keseluruhan. Jika kita melihatnya dari depan, yang terlihat
hanyalah kepala kerbau, dan kerbau pada saat itu memang tidak mampu sekaligus
memperlihatkan ekornya.[20]
Kesimpulannya
ialah empirisme lemah karena keterbatasan
indera manusia. Oleh kerena itu muncul aliran rasionalisme. Ada aliran lain yang mirip dengan empirisme yaitu sensasionalisme, sensasi artinya rangsangan inderawi. Secara kasar,
sensasi sama dengan pengalaman inderawi
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Empirisme
telah memberi tekanan pada empirik atau pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Oleh
sebab itu, empirisme lebih dititik beratkan kepada paham yang memilih
pengalaman sebagai sumber utama pengenalan yang dimaksudkan disini yaitu
pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang
menyangkut pribadi manusia saja. Empirisme sangat bertentangan dengan
rasionalisme.
Jadi,
dari pendapat-pendapat pemikiran tokoh filsafat tersebut dapat disimpulkan
bahwa empirisme berasal dari pengalaman indrawi manusia yang kemudian menjadi
pedoman kehidupan kemudian harinya. tetapi empirisme lemah karena keterbatasan
indera manusia. Sehingga, akhirnya muncul aliran raionalisme.
Daftar
Pustaka
Kattsoff, O. Louis. 2004. Pengantar
Filsafat. Edisi ke-2 Terjemahan Soejoro Soemargono: Tiara Wacana Yogya,
Yogyakarta.
Lavine, Z. Thelme.
1984. From Socrates to Sartre: the
Philosophic Quest. Edisi ke-1 Terjemahan Andi Iswanto dan Deddy Andrian
Utama: Penerbit Jendela, Yogyakarta.
Praja, S. Juhaya. 2003.
Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Jakarta:
Prenada Media.
Tafsir, Ahamd. Filsafat
Umum. 2003. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Anne
Ahira. 2003. “Tokoh Liberalisme Empirisme” http://www.anneahira.com/tokoh-liberalisme-empirisme.html
diakses 30 Oktober 2015.
Ghulamarif Rizal. 2013. “ Tokoh
Filsafat Perancis Denis Diderot” https://ghulamarifrizal.wordpress.com/2013/04/27/tokoh-filsafat-perancis-denis-diderot/
diakses tanggal 30 Oktober 2015.
Admin. 2012. “ Filsafat Translate” http://filsafat.translate.googleusercontent.com/translate_c?depth=1&hl=id&prev=searc.
Diakses tanggal 30 Oktober 2015.
[2] Thelme Z.
Lavine, From Socrates to Sartre, (Yogyakarta:
Penerbit Jendela, 2002), hlm 130-132.
[3] Juhaya S. Praja,
Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, (Jakarta:
Prenada Media, 2003), hlm 105.
[4] Ibid, hlm 105.
[5] Ibid, hlm 111.
[6] Ahamd Tafsir, Filsafat
Umum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, ) hlm 24.
[7] Lavine, Op,
Cit., 130-132.
[11]
Levine, Op. Cit., 154-155.
[13]Anne Ahira, “Tokoh Liberalisme Empirisme” (online), http://www.anneahira.com/tokoh-liberalisme-empirisme.html diakses 30
oktober.
[15] Ibid.
[16] Ghulamarif
Rizal, “ Tokoh Filsafat Perancis Denis Diderot”
(online), https://ghulamarifrizal.wordpress.com/2013/04/27/tokoh-filsafat-perancis-denis-diderot/
diakses tanggal 30 0ktober
[17] Ibid.
[18] Ibid.
[19] Admin, “
Filsafat Translate” (online) http://filsafat.translate.googleusercontent.com/translate_c?depth=1&hl=id&prev=searc. Diakses tanggal
30 oktober
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment