Skip to main content

Featured

Share Makalah Moment


Makalah Filsafat Umum Empirisme
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Seorang penganut empirisme perpendirian bahwa kita dapat memperoleh suatu pengetahuan melalui pengalaman. Sebagai contohnya, seperti pada pertanyaan berikut ini. “Bagaimanakah orang mengetahui es itu beku?” Jawaban kita tentu “ Karena saya melihatnya demkian itu”, atau seseorang ilmuwan telah melihatnya demikian.” Atau sama halnya terhadap pertanyaan.”Bagaimana orang mengetahui John Lennon telah dibunuh?”, maka jawaban kita akan berbunyi, “ Karena seseorang yang ada di tempat itu dan melihat kejadian tersebut, telah menerangkannya demikian”. Dengan demikian dapat dibedakan dua macam unsur : ‘yang mengetahui’ dan ‘yang diketahui’. Orang yang mengetahui merupakan subyek yang memperoleh pengetahuan dan dikenal dengan suatu perkataan yang menunjukkan seseorang atau suatu kemampuan.
Dapat dibedakan dalam jawaban terhadap pertanyaan “Bagamana orang mengetahui bahwa es itu membeku?” ialah keadaan kita bersangkutan degan ‘melihat’ atau ‘mendengar’ atau suatu pengalaman inderawi yang lain. Bagaimakah api itu panas? Dengan menyentuh barang sesuatu dan memperoleh pengalaman yang kita sebut ‘panas’. Bagaimanakah kita mengetahui pakah panas itu?” dijawab dengan menunjukkan pengalaman-pengalama indrawi yang sesuai.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan empirisme?
2.      Siapa saja penganut-penganut empirisme?
3.      Apa pendapat mereka tentang empirisme?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui maksud dan pengertian empirisme.
2.      Mengetahui tokoh-tokoh empirisme serta hasil pemikirannya.
3.      Mengetahui pendapat mereka tentang empirisme.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Empirisme
Empirisme telah memberi tekanan pada empirik atau pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, imperia, yang berarti pengalaman indrawi. Oleh sebab itu, empirisme lebih dititik beratkan kepada paham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan yang dimaksudkan disini yaitu pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia saja. Empirisme sangat bertentangan dengan rasionalisme. Masalah yang ramai dibicarakan, baik oleh rasionalisme di daratan Eropa maupun empirisme yang merajalela di Inggris, adalah substansi.
Aliran ini muncul di Inggris, yang pada awalnya dipelopori oleh Francis Bacon (1561-1626), kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh pasca Descrates, seperti Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), Barkeley (1685-1753), dan yang terpenting adalah David Hume (1711-1776).
Pada penjelasan kali ini kami akan menjelaskan pemikiran penganut-penganut empirisme.

B.     Penganut Pemikiran Empirisme
1.      John Locke  (1632-1704)
John Locke, bapak empirisme asal Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan, akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabula rasa berarti meja lilin), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi.[1] Menurut Locke seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang diperoleh dari pengindraan dan refleksi yang pertama-tama dan sederhana tersebut.
      John Locke adalah tokoh yang paling awal dalam urutan empirisme Inggris, beliau adalah sosok yang paling konservatif dan kurang menusuk dalam melesatkan pertanyaan keras empirisme.[2] Dia berpendapat kalau peran empirisme akan tiba dalam perkembangan filsafat di masa yang akan datang. Peran filsuf seperti yang diramalkan Locke: sebagai buruh rendahan, membersihkan tanah, mengambil sampah. Sampah yang diambil para filsuf yaitu sampah rasionalistik seperti tulisan-tulisan Plato, Saint thomas, dan Descartes.
Lokce termasuk yang orang mengaggumi Descrates, tetapi ia tidak menyetujui ajarannya. Bagi, Locke, mula-mula rasio manusia dianggap sebagai “lembaran kertas putih” (as a white paper) dan seluruh isiya berasal dari pengalaman.[3]
Bagi Locke, pengalaman ada dua: pengalaman lahiriah (sensation) dan pengalaman batiniah (reflection).[4] Kedua sumber penalaman ini menghasilkan ide-ide tunggal (simple ideas).
Pandangan Locke mengenai lembaran putih manusia mirip sekali dengna teori fitrah dalam filsafat Islam yang didasarkan atas pertanyaan al-Qur’an, surah ke-30 al-Rum ayat ke-30. Fitrah adalah bawaan manusia sejak lahir yang didalamnya terkandung tiga potensi dengan fungsinya masing-masing. Pertama fungsi ‘aql yang bberfungsi untuk mengenal Tuhan, mengesakan Tuhan, dan mencintai-Nya. Kedua, potensi syahwat yang berfungsi untuk menginduksi objek-objek yang menerangkan. Ketiga, potensi gadlab yang berfungsi untuk menghindari segala yang membahayakan. Ketika manusia dilahirkan, ketiga potensi ini telah dimilikinya. Namun demikian, agar potensi-potensi tersebut beraktualisasi perlu ada bantuan dari luar dirinya. Dalam filsafat Islam, kedua orang tua anak yang terlahir itulah yan pertama-tama berkewajiban memberikan pengetahuan untuk aktualisasi potensi-potensi tersebut. Dengan lain kata, orag tualah yang menggoreskan tulisan di atas lembaran putih si anak yang terahir itu.[5]
Buku Locke, Essay Concerning Human Understanding (1689), ditulis berdasarkan satu premis, yaitu semua pengetahuan datang dari pengalaman. Ini berarti tidak ada yang dapat dijadikan idea atau konsep tentang sesuatu yang berada di belakang pengalaman, tidak ada idea yang diturunkan seperti yang diajarkan oleh Plato. Dengan kata lain Locke menolak adanya innate idea; termasuk apa yang diajarkan oleh Descartes, Clear and distinc idea. Adequate idea dari spinoza, truth of reason dari Leibniz, semua ditolaknya[6] 
      Teori Pengetahuan Locke. Menurut sudut pandang Locke semua ide pemikiran kita hanya ada satu sumber dan itu adalah pengalaman. Sasarannya yakni utuk menunjukkan bahwa asal mula pengetahuan kita ada pada pengalaman indra kita, melalui gambaran penerimaan akal yang dibuat oleh obyek dari luar. Adapun satu-satunya sumber lain pengetahuan yaitu refleksi kita terhadap pengalaman indra, seperti berpikir, ragu, dan yakin.[7]

2.      George Barkeley (1665-1753)
Barkeley yang lahir di Irlandia ini menjadi UskupAnglikan di Cloyne (Irlandia). [8] sebagai penganut empirisme, Barkeley mengemukakan teori yang dinamakan immaterialisme atas dasar prinsip-prinsip empirisme. Ia berpendapat bahwa sama seklai tidak ada subtansisubtansu material, yang ada hanyalah pegalaman ruh saja. Esse estpercipi (being is being perceived), yang artinya, dalam dunia material sama saja dengan ide-ide yang saya alami. Sebagaimana di bioskop, gambar-gambar film pada layar putih dilihat pada para penonton sebagai benda-benda yang riil dan hidup. Menurutnya ide-ide membuat saya melihat suatu dunia material.
Barkeley mengakui bahwa aku merupakan suatu subtansi ruhani. Ia juga mengakui adanya Allah, sebab Allahlah yang merupakan asal-usul ide-ide yang saya lihat. Jika mengatakan bahwa Allah menciptakan dunia, yang kita maksud adalah bukan berarti ada suatu dunia di luar kita, melainkan bahwa Allah member petunjuk atau mempertunjukkan ide-ide kepada kita. Jika kita memahami perbandingan wujud ini dengan film seperti diatas tadi maka boleh kita teruskan bahwasanya Allah-lah yang memutar film tersebut.
3.      David Hume (1711-1776)
Menurut para penulis sejarah filsafat, empirisme berpuncak pada David Hume ini, sebab ini menggunakan prinsip-prinsip empiristis dengan cara yang paling radikal. Terutama pengertian substansi dan kaulitas (hubungan sebab-akibat) menjadi obyek kritiknya.[9] Ia tidak menerima subtansi, sebab yang dialami ialah kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selali terdapat bersama-sama (misalnya, putih, licin, erat, atau sebagainya). Tetapi, atas dasar pengalaman tidak dapat disimpulkan bahwa dibelakang ciri-ciri itu masih ada suatu substansi tetap (misalnya, sehelai kertas yang mempunyai ciri-ciri tadi). Sebagai seorang empirisme, Hume Nampak lebih konsekuen daripada Barkeley.
Hume adalah seorang yang menguasai hukum, satra, dan filsafat. Karya terpentingnya ialah anencuiry concercing human understanding. Pemikiran empirisnya terakumulasi dalam ungkapannya yang singkat yaitu I never catch my self at any time with out a perception (saya selalu memiliki persepsi pada setiap pengalaman saya). Dari ungkapan ini Hume menyampaikan bahwa seluruh pemikiran dan pengalaman tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan (impression).
Pemikiran ini lebih maju selangkah dalam merumuskan bagaimana sesuatu pengetahuan terangkai dari pengalaman, yaitu melalui suatu institusi dalam diri manusia dan kemudian menjadi pengetahuan. Disamping itu pemikiran Hume ini merupakan usaha analisis agar empirisme dapat dirasionalkan  terutama dalam pemunculan ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pengamatan (observasi) dan uji coba (eksperimen) kemudian menimbulkan kesan-kesan, pengertian-pengertian, dan akhirnya pengetahuan.
Empirisme menganjurkan agar kita kembali kepada kenyataan yang sebenarnya (alam) untuk mendapatkan pengetahuan, karena kebenaran tidak ada secara a priori di benak kita, melainkan harus diperoleh dari pengalaman. Melalui pandangannya, pengetahuan yang hanya dianggap valid adalah bentuk yang dihasilkan oleh fungsi panca indera selain dari padanya adalah bukan kebenaran/omong kosong. Dan mereka berpendapat bahwa tidak dapat di buat sebuah klaim (pengetahuan) atas perkara di balik penampakan, baik melalui pengalaman faktual maupun prinsip-prinsip keniscayaan. Artinya dimensi pengetahuan hanya sebatas persentuhan alam dengan panca indera, di luar perkara-perkara pengalaman yang dapat terserap secara fisik adalah tidak valid dan tidak dapat diketahui dan tidak dianggap keabsahan sumbernya.
Usaha manusia untuk mencari pengetahuan yang bersifat mutlak dan pasti telah berlangsung dengan penuh semangat dan terus menerus. Walaupun begitu, paling tidak sejak zaman aristoteles, terdapat tradisi epistemologi yang kuat untuk mendasarkan kepada pengalaman manusia, dan meninggalkan cita-cita untuk mencari pengetahuan yang mutlak tersebut. Doktrin empirisme merupakan contoh dan tradisi ini.
Kaum empiris berdalil bahwa adalah tidak beralasan untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita, terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan. Kaum empiris cukup puas dengan mengembangkan sebuah sistem pengetahuan yang mempunyai peluang yang besar untuk benar, meskipun kepastian mutlak takkan pernah dapat di jamin.
Kaum empiris memegang teguh pendapat behwa pengetaguan manusia dapat diperoleh melalui pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang empiris bahwa sesuatu itu ada dia akan berkata “tunjukkan hal itu kepada saya”. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh pengalamannya sendiri. Jika kita mengatakan kepada dia bahwa ada seekor harimau dikamar mandinya, pertama dia minta kita untuk menceritakan bagaimana kita sampai pada kesimpulan itu. Jika kemudian kita terangkan bahwa kita melihat harimau itu dalam kamar mandi, baru kaum empiris akan mau mendengar laporan mengenai pengalaman kita itu, namun dia hanya akan menerima hal tersebut jika dia atau orang lain dapat memeriksa kebenaran yang kita ajukan, dengan melihat harimau itu dengan mata kepalanya sendiri.
Dua aspek dan teori empiris terdapat dalam contoh di atas tadi. Pertama adalah perbedaan antara yang mengetahui dan yang diketahui. Yang mengetahui adalah subyek dan benda, yang diketahui adalah obyek. Terdapat alam nyata yang terdiri dan fakta atau obyek yang dapat di tangkap oleh seseorang.
Kedua adalah, kebenaran atau pengujian kebenaran dan fakta atau obyek didasarkan kepada pengalaman manusia. Agar berarti bagi kaum empiris, maka pernyataan tentang ada atau tidak adanya sesuatu haruslah memenuhi persyaratan pengujian publik.

Teori Pengetahuan Hume:
a.      Landasan Segala Pengetahuan
Dalam landasan ini Hume mempelajari ilmu pengetahuan tentang manusia, ilmu tentang sifat alamiah manusia, merupakan proses mempelajari landasan segala pengetahuan manusia. Apa yang ingin dilakukan Hume adalah bertanya, dengan memperhatikan segala pengetahuan kita: 1) bagaimana anda tahu, apa yang menjadi asal mula pengetahuan? 2) apa yang menjadi batasan manusia? Pertanyaan itu merupakan yang diajukan para penganut empirisme, Hume akan memdesak mereka terus menerus dan tanpa berhenti melakukannya. Dan dia telah mengetahui apa yang dia tunjukkan: bahwa kita tidaklah memiliki pengetahuan, melainkan sekedar keyakinan bahwa yang kita rasakan itu benar.
b.      Kritik Keras atas Doktrin dua jenis pengetahuan
Dalam teori ini Hume bertujuan untuk menanyakan apa yang menjadi landasan segala pengetahuan adalah untuk menunjukkan bahwa hanya ada satu landasan, berisi satu jenis satu pengetahuan saja, pengetahuan oleh persepsi panca indra. Dia bermaksud membantah keyakinan filsafat lama bahwa ada dua jenis pengetahuan. Plato dan descartes berpendapat dari anggapan bahwa ada dua jenis pengetahuan yakni: pengetahuan biasa dengan dengan persepsi panca indra, ada jenis pengetahuan yang sumbernya pemikiran. Akan tetapi Hume membantah bahwa ada dua jenis pengetahuan. Bahwa ada jenis pengetahuan tingkat atas yang bisa dicapai filsuf dengan akalnya, pengetahuan metafisika gagasan ini dia katakan hanya benar-benar metafisika pasti hanyalah omomng kosong, termasuk doktrin dasarnya bahwa ada dua jenis pengetahuan, pengetahuan biasa dengan persepsi panca indra dan pengetahuan metafisika tingkat tinggi dengan pemikiran atau akal.
c.       Persepsi pengindraan: kesan dan Gagasan
      Hume mengemukakan mengenai teori persepsi pengindraan , yang menurutnya merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang kita miliki, sedangkan apa yang bisa diketahui sangatlah terbatas? Kandungan kesadaran secara umum dinamakannya (descartes menamakannya ide). Dia membagi persepsi menjadi kesan dan gagasan.
      Kesan adalah sensasi, hasrat, dan emosi seketika, data dari perbuatan melihat, menyentuh, mendengar, keinginan, mencintai. Gagasan adalah gambar salinan atau samar dari kesan, misalnya apa yang kita dapatkan waktu berpikir atau mengingat kesan seketika kita. Hume mengatakan bahwa perbedaan kesan dan gagasan adalah kesan memiliki kekuatan dan kenampakan yang lebih besar. Kesan memasuki kesadaran kita “kekuatan dan kekerasan” yang lebih besar. Sebaliknya, gagasan hanyalah gambar dari kesan kita, yang terdapat didalam pikiran kita, penalaran, pengingatan. Misalnya, jika anda melihat ruangan dimana anda berada, maka anda memperoleh kesan mengenai ruangan itu, sensasi akan ukurannya, kursi, meja, karpet, dan barang-barang lainnya.
      Disini Hume membuat suatu argumen empiris yang penting bahwa  kesan yang didapat panca indra.
d.      Prinsip-prinsip Empirisme
      Prinsip dasar yang ditetapkan Hume “segala gagasan sederhana kita pada awalnya dihasilkan dari kesan yang sederhana yang berkaitan dengan gagasan itu dan yang benar-benar mewakili kebenarannya.” Jika tidak ada kesan maka tidak ada gagasan. Jadi aturan empirisme Hume bukan hanya uji kelayakan gagasan kita sebagai pengetahuan (jika tidak ada kesan, maka gagasan tidak akan berarti) namun juga merupakan pengujian atas makna gagasan kita (jika tidak ada kesan, maka gagasan tidak bermakna).
e.       Penggabungan Gagasan
      Gabungan gagasan kita berdasarkan pada tiga ciri gagasan, dan cenderung membawa pikiran kita dari suatu gagasan ke gagasan lain.       Hukum pertama adalah bahwa gagasan tergabung atau terkait oleh kemiripan antar gagasan. Jadi dengan mudah pikiran kita berpindah dari suatu gagasan ke gagasan lainnya yang mirip. Contoh bahwa “sebuah lukisan dengan mudah membawa pikiran kita ke obyek aslinya”.[10]
      Hukum kedua adalah kedekatan. Kedekatan satu gagasan dengan gagasan lainnya dalam hal ruang dan waktu. Pikiran kita cenderung menggabungkan satu gagasan dengan gagasan lainnya yang secara fisik dan jasmaniah. Contohnya menyebutkan satu apartemen dalam sebuah gedung, “umumnya membawa kita berpikir mengenai apartemen lainnya”.
      Hukum ketiga adalah sebab dan akibat. Misalnya seperti jika kita memikirkan luka, kita jarang sekali mencegah diri kita untuk merasakan rasa sakit, gagasan mengenai luka membawa kita dalam penggabungan gagasan tadi ke gagasan akibat dari luka, rasa sakit. Dan diantara tiga hukum ini, kata Hume, penggabungan gagasan menggunakan sebab dan akibat merupakan penggabungan gagasan yang paling kuat.
f.       Hukum Psikologi Penggabungan Gagasan
      Hume mnyimpulkan, gagasan keterkaitan wajib antara sebab dan akibat bukan pada obyek yang kita amati, melainkan hanya pada pikiran kita. Sebagai seorang penganut empirisme yang radikal dan eksterm dia telah menjatuhkan pandangan bahwa ilmu pengetahuan telah mengungkapkan hukum sebab-akibat alam, seperti hukum gravitasi. Hume menunjukkan bahwa pentingnya sebab-akibat bukanlah hubungan obyektif antara benda-benda yang bisa diteliti oleh seorang ilmuan, namun merupakan dorongan subyektif untuk mengaitkan sesuatu dengan hukum psikologis penggabugan, dan hubungan sebab-akibat tidak bersumber pada kesan indra, melainkan pada hukum psikologis kita sendiri.[11]
g.      Dua Macam Dalil
      Bagi Hume hanya ada dua macam dalil, yakni persoalan fakta dan hubungan antar gagasan. Persoalan fakta yakni hanya berisi kesan dan gagasan kita. Tidak ada keharusan bahwa kesan tertentu akan mengikuti kesan lainnya dan fakta itu adalah sebuah keharusan. Dan dalil yang kedua yakni hubungan antar gagasan. Logika an matematika, khususnya aritmatika, geometri, dan aljabar, memberi kita pengetahuan mengenai hubungan antar gagasan. hubungan ini adalah bidang kepastian. Dalil matematika memang dengan sendirinya terbukti dan secara pasti, dan bisa dibuktikan dengan penalaran deduktif untuk mendapatkan kepastian lengkap.
      Pebedaan hume antara dua macam pernyataan atau dalil terus dipakai oleh para penganut empirisme abad XX. Dalilnya yang menyatakan hubungan antar gagasan saat ini dinamakan dalil analitis. Dalil yang menyatakan persoalan fakta saat ini dinamakan dalil sintesis.
h.      Batasan Pengetahuan
      Salah satu tujuan Hume adalah mengungkap batasan manusia. Sejauh apapun pengetahuan kita mengenai alam fakta yang kita kaji, kita terbatas pada kesan atomis kita dan gagasan penghubungnya. Kesan dan gagasan ini muncul berulang-ulang dalam pengalaman kita. Kita tidak memiliki cara mengetahui apa yang menjadi sebab kesan dan gagasan tersebut. Kita tidak mengetahui bahwa dunia luar itu ada, bahwa tuhan itu ada. Gagasan menipu dan tanpa makna ini merupakan karya imajinasi, kita tidak memiliki kesan indra atas gagasan-gagasan tersebut. Pengetahuan kita terbatas pada kesan indra kita.[12]

4.      Edmund Burke (1729-1797)
Edmund Burke, adalah seorang tokoh filsuf dan politisi Inggris. Både som politiker og som filosof angreb Edmund Burke rationalistiske synspunkter ud fra en empiristisk og konservativ grundholdning. Baik sebagai politisi dan filsuf serangan Edmund Burke rasionalis di lihat dari sebuah empiris dan sikap dasar konservatif.
Burke fastholdt traditionen frem for rationel planlægning.Burke lebih mempertahankan tradisi dari pada perencanaan rasional. I sit berømteste værk Reflections on the Revolution in France (1790, Tanker om Den Franske Revolution) afviser han enhver abstrakt idé om frihed som ledetråd for politisk handlen, hævder, at lighed er imod naturen, og forkaster idéen om broderskab som forvirret. Dalam gerakan karyanya yang paling terkenal adalah pada Revolusi Perancis (1790), ia menolak ide abstrak kebebasan sebagai panduan untuk tindakan politik, mengklaim kesetaraan yang melawan alam, dan menolak ide persaudaraan sebagai hal yang membingungkan. Den moderne britiske konservatisme anses i almindelighed for at være grundlagt af Edmund Burke. Konservatisme Inggris modern umumnya dianggap didirikan oleh Edmund Burke.
Burke udfoldede sin politiske karriere 1765-82 som sekretær for lord Rockingham , der var leder af en whig-gruppering, og 1774-94 som medlem af Underhuset.Burke mengembangkan karir politiknya 1765-1782 sebagai sekretaris Rockingham, yang merupakan pemimpin dari Whig-pengelompokan dan 1774-1794 sebagai anggota DPR. Han gjorde sig bemærket ved sine advarsler mod kongeligt magtmisbrug og for sine indlæg i kolonispørgsmål, hvor han anbefalede respekt for nedarvede traditioner og eksisterende institutioner, men fleksibilitet i de konkrete situationer. Ia diperhatikan oleh peringatan melawan penyalahgunaan kekuasaan kerajaan dan untuk masalah kolonial pasca mana ia direkomendasikan menghormati tradisi leluhur dan institusi yang ada, tetapi fleksibilitas dalam situasi tertentu.
Dalam pidatonya, 1774-1775, ia mengkritik keras kepala pemerintah terhadap koloni Amerika pemberontak. Han var tilhænger af en lempeligere kurs over for de irske katolikker. Dia mendukung tingkat yang lebih menguntungkan terhadap umat Katolik Irlandia. I 1781-83 engagerede han sig i en administrationsreform i Indien og stod i 1787 bag en opsigtsvækkende rigsretssag mod Bengalens tidligere guvernør Warren Hastings . Pada 1781-1783 ia terlibat dalam reformasi administrasi di India dan berdiri pada tahun 1787 di belakang impeachment sensasional dari mantan Gubernur Bengal Warren Hastings.
Som filosof er Edmund Burke især kendt for On the Sublime and the Beautiful (1756, Om det sublime og det skønne ), hvori han forkaster den klassicistiske æstetiks forestilling om, at et kunstværk virker ved sin klarhed og sin regelbundethed. Sebagai filsuf Edmund Burke terutama dikenal di Sublime dan Indah (1756, Pada luhur dan yang indah), di mana ia menolak neo-klasik estetika gagasan bahwa sebuah karya karya seni oleh kejelasan dan keteraturan nya.
Det virker tværtimod ved sin ubegribelighed og uafsluttethed, hævder han. Ia bekerja sebaliknya, dengan tidak dimengerti dan inconclusiveness, ia berpendapat. Edmund Burkes lære om, at oplevelsen af det ophøjede, som netop er grænseløst, er iblandet frygt, fik betydning for Immanuel Kants opfattelse af æstetik. Edmund Burke belajar tentang pengalaman luhur, yang memiliki hanya terbatas, dicampur dengan rasa takut, menjadi penting bagi Immanuel Kant konsepsi estetika.
EeEDKDD
5.      Voltaire (1694-1778)
Tokoh liberalisme perancis yang bernama asli Francois Marie Arout ini merupakan pemikir sekaligus penilik dalam bidang sastra, seni, puisi, maupun sejarah. Beliau lahir di Perancis pada tahun 1694. Sejak masih mudah namanya sudah terkenal di Perancis. Aktifitas pemikirannya yang sangat revolusioner menyebabkan ia harus keluar masuk penjara. Hidup di zaman Raja Louis XIV harus berpindah-pindah tempat karena selalu mendapat ancaman dari penguasa. Mulai dari perpindahannya ke Inggris, Russia, Swisss, hingga akhir hayatnya kembali lagi ke pinggiran Prancis.[13]
Dari perjalanan yang pajang inilah, tokoh liberalisme Perancis ini mulai menemukan kehidupan berbeda di tempat kelahirannya. Persentuhan dengan pemikiran filsuf inggris, seperti John Locke, Francis Bacon, maupun David Hume seorang filsuf penganut empirisme yang sangat berpengaruh pemikirannya.
Voltaire mendapati kehidupan demokrasi yang sangat indah di Inggris. Pemikiran John Locke tentang negara mempengaruhi sebagian besar gagasan Voltaire mengenai kebebasan. Ini sangat menentang fanatismeagama serta hal-hal bertentangan dengan kemanusiaan. Gagasan Voltaire mengenai kebebasan berpendapat serta liberalisme berpengaruh kuat terhadap munculnya revolusi Prancis pada tahun 1789. Bahkan Jean Jaques Rousseau banyak mengambil dari pemikiran voltaire yang hidup sezaman.
Sebagai penganut faham relativisme, tokoh liberalisme Prancis, Voltaire, meyakini bahwa kebenaran maupun keutamaan selalu terikat ruang dan waktu. Dari relativisme inilah, Voltaire berangkat menuju gagasan liberalisme. Ia melihat dalam pandangan sejarahnyabahwa tidak ada masa yang disebut zaman terbaik. Setiap waktu dan tempat memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Oleh sebab itu, Voltaire menolak fanatisme agama yang terkadang mengagung-agungkan kejayaan masa lalu. Selain itu, pandangan hidup manusia akan selalu dipengaruhi oleh situasi ketika falsafah itu diciptakan.
Gagasan ini tidak jauh berbedah dengan etika relatifisme. Kalangan yang menganut ajaran etika relatifisme mempercayai bahwa segala hal, termasuk norma dan etika, adalah ciptaan manusia dan dipengaruhi oleh latar belakang berbeda-beda. Dengan demikian, pandangan mengenai kebaikan maupun keburukan dalam setiap masyarakat pasti akan selalu berbeda pula. Persentuhannya dengan pemikiran Franci Bacon membawa ia pada empirisme radikal.[14]
Setiap kebenaran, menurutnya, selalu harus dibuktikan dan diuji. Sama seperti pendahulunya di Prancis, Rene Descartes. Setiap pernyataan ataupun dalil, mesti dicek terlebih dahulu agar kita sampai pada simpulan yang benar.
Secara tegas, Voltaire mengikuti faham empirisme bahwa praktik pembuktian akan lebih berguna dari pada teori semata. Pengetahuan yang diperoleh dari pengujian akan dapat dibuktikan kebenaran maupun kesalahannya sehingga dapat dipegang sebagai pandangan.[15]

6.      Denis Diderot (1713-1784)
Denis Diderot, ia lahir di Langres, Champagne, Prancis pada tahun 1713. Diderot adalah seorang siswa yang cerdas di Kolese Jesuit. Dia berangkat dari kota kelahirannya menuju Paris pada usia mudanya yaitu 19 Tahun, pada tahun 1747 dia bertemu banyak pemikir dan menjadi editor Ensiklopedi. Sejak saat itulah dia telah menunjukkan reputasinya dalam keberaniannya secara orisinil. Bidang pelajaran yang dia minati adalah matematika, ilmu-ilmu yunani (filsafat), bahasa Itali, Bahasa Inggris. 1749, pada waktu Ensiklopedinya siap dicetak, dia mempersiapkan sebuah tulisan surat kepada orang yang buta. Dalam tulisan itu dia menanyakan eksistensi dari tujuan atau desain dalam universalitas. Hal itu dikarenakan dia harus menikmati masa-masa tidak nyaman di penjara, apalagi setelah dia diketahui sebagai seorang ateis. Dari sini Diderot juga dikenal sebagai pemikir aliran materialisme.[16]
Diderot dikenal sebagai penulis cerpen yang berdaya cipta tinggi, dialog dan novelis, pioner dalam kritik seni, dekat dengan para siswanya dalam pemikiran, peneliti yang canggih, seorang yang rajin, editor yang tekun, dan handal dalam biologi serta metafisika.
Pertama kali dia adalah pembela teisme, namun kemudian dia berubah aliran kepada panteisme. hal ini disebabkan karena pengalamannya dalam menganalisa atom-atom dan bahkan benda-benda non organik yang sangat sarat dengan perasaaan. selain itu, juga mengembangkan organisme. Bagi dia, teleologi harus memberikan jalan untuk mendeskprisikan sains. Diderot memulai dari diri masing-masing orang, di mana dia berefleksi dalam dirinya sendiri, sebuah proses alamiah untuk menyetujui sikap-sikap tertentu, konsekuensi atasnya namun tidak melihat kualitas dari sisi alasan dan perasaan lain dari dirinya. Inilah yang disebut insting. insting ini tidak berhubungan dengan organ tubuh. Ini adalah ranah “kejiwaan” itu sendiri sebagaimana kekuatan kita dalam menghakimi dan beralasan, alasan hanya sebuah bentuk kekuatan dari akhir pertimbangan dari persepsi atau kehendak. Alasan hanya salah satu petunjuk kepada beberapa arti. atau membandingkan dua akhir sebelumnya yang dipengaruhi oleh kekuatan lain yang muncul dengan spontan.[17]
Dalam lingkaran para pemimpin Pencerahan, nama Diderot yang dikenal terutama oleh Lettre sur les nya aveugles (London, 1749), yang mendukung teori Locke tentang pengetahuan. Dia dibebaskan oleh pengaruh Voltaire, Posisinya secara bertahap berubah dari teisme ke deisme, kemudian ke materialisme, dan akhirnya beristirahat di sensualisme panteistik.[18]

7.      J.J. Rousseau
Rousseau lahir di Geneva pada 28 Juni 1712. Pada 4 Juli 1712, Rousseau di babtis sebagai seorang pengikut Kalvinisme. Namun, sayangnya, dua hari kemudian, ibunya meninggal. Pada waktu itu, ibunya masih berumur 40 tahun. Menurut Dent, salah satu komentator Rousseau, peristiwa ini amat mempengaruhi hidup Rousseau. Gaya reflektif dan pemahamannya soal hubungan antar manusia amat diwarnai oleh peristiwa ini.[19]
 Ayah Rousseau adalah seorang tokoh ternama di Geneva. Sebagaimana di catat oleh Dent, pada masa itu, Geneva memiliki tiga jenis penduduk. Ayah Rousseau adalah warga kota penuh. Maka, ia memiliki hak untuk aktif di dalam politik. Penting juga untuk dicatat, bahwa jumlah warga negara penuh di Geneva pada masa itu kurang dari sepuluh persen dari jumlah total penduduk.
Pada tahun 1728, Rousseau mengalami peristiwa yang mengejutkan. Pada waktu itu, ia sedang berjalan-jalan di luar gerbang kota. Namun, ketika ia pulang, ia melihat pintu gerbang kota telah tertutup. Ia pun membuat keputusan ganjil, yakni memutuskan untuk pergi meninggalkan kotanya saat itu juga, tanpa pertimbangan, dan tanpa persiapan apapun. Ia “ingin mencoba kesempatannya di dunia yang lebih luas”.
Sekitar tahun 1762 Rousseau menulis salah satu karya terbesarnya, yakni The Social Contract. Buku itu disambut dengan meriah oleh berbagai kalangan. Ia bahkan di minta untuk menuliskan konstitusi untuk Corsica pada 1764 dan Polandia pada 1771. “Jika Corsica tidak diinvasi, dan Polandia tidak pecah”, mungkin saja, di akhir abad 18, kita bisa melihat penerapan prinsip-prinsip Kontrak Sosial di konstitusi negara yang nyata. Sebenarnya, inilah cita-cita Rousseau, yakni mengawinkan teori dan praktek politik praktis. Ini jugalah yang membuatnya amat dikagumi oleh para pemikir lainnya, terutama oleh para pemikir pencerahan. Berbeda dengan Filsafat Politik Plato, yang berbicara tentang praktek-praktek ideal suatu negara, filsafat politik Rousseau berbicara tentang situasi konkret tempat tinggalnya, dan bagaimana sebaiknya tempat itu dikelola dengan prinsip-prinsip yang tepat.
Di sisi lain, banyak juga pihak yang marah dengan tulisan tersebut, Rousseau menegaskan antara agama dan politik sangat berkaitan. Artinya, orang berpolitik haruslah menggunakan semangat yang sama, seperti orang beragama, yakni melihat tugas-tugas politik sama sucinya dengan tugas-tugas suci agama yang melibatkan keberadaan Tuhan. Pandangan ini menuai banyak kritik, baik dari kalangan agama, maupun dari kalangan para pemikir sekular. Di mata para filsuf pencerahan, Rousseau dianggap sebagai penjilat yang masih berpihak pada tradisi kuno, yakni agama. Di mata kaum agamawan, ia dianggap sebagai pemikir bejat yang menyamakan agama dengan kekotoran dunia politik. Namun, posisinya sebenarnya adalah pada komitmen pencerahan itu sendiri, yakni penggunaan akal budi dalam kehidupan pribadi, maupun kehidupan publik. Karya-karyanya terus mengalami sensor. Di Paris, buku-buku Rousseau dilarang terbit. Bahkan, buku-buku itu dibakar di jalan-jalan kota Geneva. Pada 1762, ia menjadi buronan para penegak hukum. Ia dibenci, baik oleh kaum agamawan, maupun oleh para pemikir Pencerahan. Dua kelompok yang pada masa-masa itu juga saling bertentangan.
Pada 1763, Rousseau mendapatkan perlindungan dari Frederick, penguasa Prussia (Jerman) pada masa itu. Pada saat yang sama, ia pun melepaskan kewarganegaraannya di Geneva. Di Prussia, ia seringkali harus menggelandang, karena tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Rousseau pada masa-masa itu seringkali mengalami ketakutan berlebihan atas niat-niat orang-orang di sekitarnya. Ia merasa, bahwa semua orang memiliki niat jahat padanya. Pada 1766, ia menemukan pelindung baru, yakni David Hume di Inggris. Di sana, Rousseau tinggal lebih dari 18 bulan, terutama di Wootton, Staffordshire, Inggris. Namun, kecemasan dan ketakutannya terus ada, dan semakin bertambah. Ia selalu merasa, semua teman-temannya, termasuk Hume dan para pemikir pencerahan di Prancis lainnya, bersekongkol untuk menjatuhkannya. Kecemasan dan ketakutan ini sungguh membuat hidup Rousseau menderita. Pada masa-masa yang sama, berbagai tulisan lahir dari tangannya, mulai dari tentang musik, botani, puisi, sampai karya-karya tentang pendidikan. Ia juga menulis autobiografi perjalanan hidupnya sendiri. Perasaan cemas, takut, dan kebencian pada orang-orang yang mengejarnya membuatnya harus kembali melarikan diri ke Paris bagian Utara, yakni di Ermenonville. Di tempat inilah, ia mengalami pendarahan, dan meninggal dalam diam. Namun, banyak orang menduga, Rousseau membunuh dirinya sendiri.
Menurut Nicholas Dent, di dalam bukunya tentang Rousseau, perjalanan hidup Rousseau dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah 1712-1749. Ini adalah masa-masa penempaan awal Rousseau sebagai seorang pemikir. Pada masa-masa ini, ia banyak menulis soal musik. Bagian kedua adalah masa pendewasaan, yakni 1750-1764. Pada masa-masa ini, banyak karya-karya terbaik Rousseau terbit. Diantaranya adalah Discourses, La Nouvelle Héloïse, Émile, The Social Contract, dan Letter to d’Alembert. Bagian ketiga adalah 1764-1768. Di masa ini, ia mengalami banyak gangguan mental. Pada masa ini pulalah ia menulis The Confession, autobiografinya yang terkenal.
Meski pengetahuan yang dilandasi oleh pengalaman tersebut dapat dikatakan benar, namun kelemahan pada aliran ini cukup banyak, berikut kelemahan-kelemahan yang ditimbulkan empirisme,
a.         kelemahan pertama ialah indera terbatas. Benda yang jauh kelihatan kecil. Apakah benda itu kecil? Tidak, keterbatasan indera inilah yang dapat melaporkan objek tidak sebagaimana adanya, dari sini akan terbentuk pengetahuan yang salah.
b.        Kelemahan kedua ialah indera menipu, pada orang yang sakit malaria, gula rasanya pahit, udara panas dirasakan dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan empiris yang salah juga.
c.         Kelemahan ketiga ialah objek yang menipu, contohnya ilusi, fatamorgana. Jadi, objek itu sebenarnya tidak sebagaimana di tangkap oleh panca indera, ia membohongi indera. Ini jelas dapat menimbulkan pengetahuan inderawi yang salah.
d.        kelemahan keempat berasal dari indera dan objek sekaligus. Dalam hal ini indera (mata) tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan, dan kerbau itu juga tidak dapat memperlihatkan badannya secara keseluruhan. Jika kita melihatnya dari depan, yang terlihat hanyalah kepala kerbau, dan kerbau pada saat itu memang tidak mampu sekaligus memperlihatkan ekornya.[20]
Kesimpulannya ialah empirisme lemah karena keterbatasan  indera manusia. Oleh kerena itu muncul aliran rasionalisme. Ada aliran lain yang mirip dengan empirisme yaitu sensasionalisme, sensasi  artinya rangsangan inderawi. Secara kasar, sensasi sama dengan pengalaman inderawi


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Empirisme telah memberi tekanan pada empirik atau pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Oleh sebab itu, empirisme lebih dititik beratkan kepada paham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan yang dimaksudkan disini yaitu pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia saja. Empirisme sangat bertentangan dengan rasionalisme.
Jadi, dari pendapat-pendapat pemikiran tokoh filsafat tersebut dapat disimpulkan bahwa empirisme berasal dari pengalaman indrawi manusia yang kemudian menjadi pedoman kehidupan kemudian harinya. tetapi empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia. Sehingga, akhirnya muncul aliran raionalisme.


Daftar Pustaka
Kattsoff, O. Louis. 2004. Pengantar Filsafat. Edisi ke-2 Terjemahan Soejoro Soemargono: Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta.
Lavine, Z. Thelme. 1984. From Socrates to Sartre: the Philosophic Quest. Edisi ke-1 Terjemahan Andi Iswanto dan Deddy Andrian Utama: Penerbit Jendela, Yogyakarta.
Praja, S. Juhaya. 2003. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Prenada Media.
Tafsir, Ahamd. Filsafat Umum. 2003. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Anne Ahira. 2003. “Tokoh Liberalisme Empirisme” http://www.anneahira.com/tokoh-liberalisme-empirisme.html diakses 30 Oktober 2015.
Ghulamarif Rizal. 2013. “ Tokoh Filsafat Perancis Denis Diderot” https://ghulamarifrizal.wordpress.com/2013/04/27/tokoh-filsafat-perancis-denis-diderot/ diakses tanggal 30 Oktober 2015.
Admin. 2012.  “ Filsafat Translate” http://filsafat.translate.googleusercontent.com/translate_c?depth=1&hl=id&prev=searc. Diakses tanggal 30 Oktober 2015.





[1] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm 133.


[2] Thelme Z. Lavine, From Socrates to Sartre, (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2002), hlm 130-132.
[3] Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, (Jakarta: Prenada Media, 2003), hlm 105.
[4] Ibid, hlm 105.
[5] Ibid, hlm 111.
[6] Ahamd Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, ) hlm 24.
[7] Lavine, Op, Cit., 130-132. 
[8] Praja, Op, Cit., 111.
[9] Praja, Op, Cit., 112.
[10] Lavine, Op. Cit., 136-147.
[11] Levine, Op. Cit., 154-155.
[12] Levine, Op. Cit., 157-160.
[13]Anne Ahira, “Tokoh Liberalisme Empirisme” (online), http://www.anneahira.com/tokoh-liberalisme-empirisme.html diakses 30 oktober.
[14] Ibid.
[15] Ibid.
[16] Ghulamarif Rizal, “ Tokoh Filsafat Perancis Denis Diderot”  (online), https://ghulamarifrizal.wordpress.com/2013/04/27/tokoh-filsafat-perancis-denis-diderot/ diakses tanggal 30 0ktober
[17] Ibid.
[18] Ibid.
[19] Admin, “ Filsafat Translate” (online) http://filsafat.translate.googleusercontent.com/translate_c?depth=1&hl=id&prev=searc. Diakses tanggal 30 oktober
[20] Ibid


Semoga Bermanfaat!!!

Comments

Popular Posts