Skip to main content

Featured

Advise or Judged?

Aku Mau Curhat Nih! Gimana Pendapatmu?
Kemarin malam, aku mengirimkan sebuah kiriman Instagram di pesan langsung temanku. Kirimannya tentang warna, sebab beberapa hari lalu kita sempat agak kecewa dengan pesanan blazer kelompok yang warnanya tidak sesuai ekspektasi. Pesan warna army namun yang datang hijau tua. Kita sedikit kesal, “but I’ts oke” kita menghibur diri. Percakapan berlangsung cukup lama, tidak biasanya kita menggunakan pesan langsung instagram. Sedikit lucu, karena kita biasa bercakap lewat Whats App. Lama bicara ngalur ngidul kemudian sampai titik dimana temanku juga mengirim sebuah postingan seseorang, yang sayangnya hanya berbentuk capture.

Isinya tentang tips ngadepin orang curhat, aku baca baik-baik hanya ada dua point didalamnya. Well, Aku, kamu, dan siapapun pasti pernah didatengi teman-teman yang sedang bermasalah lalu mereka pengen curhat. Di dalam tips ngadepin orang curhat tersebut disebutkan dua poin penting:

1. Jangan Merasa ‘Sok Tau’ Dengan Masalahnya

Kebanyakan orang (kadang aku juga), mengatakan ini “Aku paham kok dengan apa yang kamu rasain”. Atau kalimat seperti “Aku ngerti perasaan kamu saat ini,”
Dalam tips tersebut memberi saran agar berbicara sebaliknya (Berdasarkan style yang dicontohkan ibunda Khadijah saat menghadapi curhatan suami tercintanya).
“Aku nggak tau apa yang kamu hadepin saat ini, yang aku tau hanya, kamu itu orangnya baik dengan orang lain, jadi tidak mungkin Tuhan menghukum orang yang baik dengan sesama.”
Atau kalimat lainnya juga, “Aku nggak tahu dan mungkin nggak akan sanggup ngadepin beratnya masalah kamu saat ini, yang aku tahu hanyalah, kamu itu orangnya kuat, dan tidak ndak gampang menyerah.”

2. Jangan “Menghentikan” Kesedihannya

Kalimat yang sering dikatakan misalnya seperti, “Udah jangan sedih lagi, jangan nangis lagi.”
Tips itu melarang kita mengatakan itu, alibinya si curhat juga manusia, perlu mengekspresikan, meluapkan emosinya. Bila memungkinkan, peluk saja dia, dan kamu bisa bilang ke dia, “You can tell me everything, if you want, aku akan dengerin semuanya.”

Dari keseluruhan tips dia bertanya “Bagaimana pendapatmu?” pada akhirnya aku bilang setuju. Seringkali ketika ada teman yang curhat, kita menempatkan diri sebagai orang yang benar, orang yang kuat, dan tidak bermasalah. Padahal bisa jadi suatu saat kita menempati posisi si curhat, karena kita juga manusia yang gak mungkin, gak punya masalah.

Coba kita ikut memposisikan diri sebagai si curhat, mencoba mendalami apa permasalahan, mendengar perkataannya, hanya mendengar, merespon sekali dua kali boleh, namun jangan berkomentar. Mengelus pundak si curhat saat napasnya mulai tidak beraturan dalam tangisnya yang tumpah. memberi tisu atau coklat manis untuk menghiburnya. Yakinlah, si curhat hanya ingin di dengar, hanya ingin mencari teman yang mau diajak merasakan masalahnya. Kalau si curhat sudah merasa tenang dan tangisnya berhenti memberi tisu, air putih atau coklat manis untuk menghiburnya.

Lalu, kemudian jika dia meminta pendapat darimu. Beri pendapat, bukan nasehat. Tetiba segala macam kata mutiara keluar dari mulutmu. Bisa jadi dia akan semakin muak. Sadari dia hanya butuh teman untuk merasakan hal yang sama, dia manusia, mahkluk sosial yang membutuhkan manusia lainnya untuk menenangkan diri. Pula, terkadang kita sok memberi solusi yang seharusnya tidak kamu lakukan. Sebab, setiap masalah itu berbeda, hanya dia yang paling tahu permasalahannya sendiri, cara menyikapi, dan menyelesaikannya.

Jika, dia benar-benar menginginkan solusi, katakana beberapa opsi dan tambahkan kata semacam, “Ini hanya pendapat dariku, aku bahkan tidak pernah mendapat masalah seperti dirimu, tapi yang kutahu kamu kuat dan aku yakin kamu segera menyelesaikan masalah ini.” Atau kalimat yang semacamnya. Jangan paksa temanmu mengikuti saranmu yang kamu anggap paling benar ini.

Saat ku-tanya temanku yang bertanya tadi, dia menjawab ‘setuju.’. dia yang keibuan seringkali didatangi teman lain yang inginkan curhat. Dan, jelas tips ini sangat bermanfaat untuk dirinya. Bahkan diriku yang suka mendengar perkataan orang lain. Di beberapa kejadian saat seorang teman curhat, aku selalu kesusahan memberinya nasehat. Selalu banyak pertimbangan yang tentang apa nasehat ini benar, apa nasehat ini malah menyakiti hatinya, atau dia bahkan merasa terhakimi dengan nasehatku?. Dari tips itu aku senang, aku tahu jika ternyata setiap curhatan tidak selalu butuh solusi, tidak selalu butuh nasehat atau pembenaran. Mereka hanya butuh pendampingan. Bersyukurlah jika ada teman yang curhat, itu berarti kamu dipercaya dan mereka membutuhkanmu. Pada akhirnya aku tidak perlu bersusah payah menngarang kata motivasi yang bahkan tidak bisa ku lakukan saat aku dalam posisi sepertinya.

Aku masih berlanjut saling berkirim pesan dengan temanku, namun sekarang sudah berganti topik. Sebelum akhirnya ia menyudahi dan berpamitan untuk memasak sarapan.



Sidoarjo, 7 November 2018





Comments

  1. Kadangkala seseorang hanya butuh didengar, tidak selalu butuh nasehat 😊. Teruskan mbak intan nulisnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cie comment pertamax. Cuss ke blog kamu ah...

      Delete

Post a Comment

Popular Posts