Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Mencari Pemimpin Ideal Melalui Sejarah
Mencari Pemimpin Ideal Melalui Sejarah
Di zaman menjelang akhir ini, manusia sangat di bingungkan dengan
memilih pemimpin yang dapat memecahkan masalah yang kian rumit dan pelik.
Tuntutan yang kian hari-kian tak dapat terpecahkan bila hanya sekadar
dipikirkan satu sisi. Bagaikan dua sisi mata pisau yang tajam, sesungguhnya
amanah pemimpin juga seperti itu. di satu sisi, amanah inid apat membawanya ke
Surga bila ia dapat melaksanakan amanah dengan baik. Namun, celakalah bila
ternyata ia berlaku lalai dan lalim.
Permasalahan bukan hanya di zaman akhir ini saja, bahkan sejak
sebelum masehipun telah terjadi masalah yang sama. Di Indonesia, pada masa
pra-merdeka saat konstutional masih belum ada. Pemerintah berbentuk kerajaanlah
yang menjadi tingkatan kepemimpinan tertinggi. Sebut saja Kerajaan Mataram,
Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Kutai, Kerajaan Singasari, dan Kerajaan Mataram.
Kelimanya merupakan kerajaan terbesar sebelum Islam datang di Indonesia sekitar
abad ke-4 dan mulai lengser dan berjatuhan pada abad ke-15 saat datang Islam
dan mulainya masa Ke-emasan Kerajaan Islam yang berbarengan dengan masuknya
Belanda.
Kelima Kerajaan tersebut bila ditilik lebih dalam alasan mereka
dapat ebrtahan samapai ratusan tahun adalah kemampuan mereka dalam berpolitik,
kekuatan armada, serta mahirnya dalam berdagang. Sehingga, mereka dapat
bertahan menjadi piramida pimpinan tertinggi pada masanya. Beribu kali
kemenangan didapatkan atas kerja sama bersama dengan panglima kuat yang mereka
miliki. Ekspansi besar-besaran yang dilakukan hanya demi kemajuan kerajaan
mereka. Pengguasaan terhadap beberapa kerajaan di Indonesia dan Negara tetangga
telah didapat ditangan. Sayangnya, masa keemasan tersebut runtuh karena masalah
internal dari Kerajaan sendiri.
Saat kejayaan Islam sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13 lalu. Saat
kemudian, Islam masuk dan menyebar di Indonesia. Sebutlah Samudra Pasai,
kerajaan terbesar pertama di Indonesia. Ekspansinya yang dilakukan menggunakan
metode niaga rupanya berhasil merebut kekuasaan di Indonesia. Bukan ahanya
masalah kekuasaan, penyebaran Islam dikalangan orang disekitar pelabuhan pada
awalnya, dan kemudian ke hampir diseluruh Indonesia. Sangat tidak mudah
pencapaian itu semua. Tentu perjuangan yang dilakukan oleh pemimpin yang kuat
dengan kecerdikan dalam berpolitik yang dimilikinya merupakan satu hal
indikator utamanya.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia di zaman sekarang? Apakah mereka
bisa belajar denagn melihat kerajaan di masa lalu dan mengambil pelajaran dari
masa lalu itu? Apakah Indonesia sudah melakukan politik yang benar? Kata orang
jawaban itu tidak penting, yang terpenting adalah pertanyaan. Lalu, apa jawaban
ini kemudian tidak bisa di jawab kemudian? Indonesia pernah Berjaya pada
masanya saat itu. Lalu, tidak bisakah hal itu terulang kembali?
Sebagai orang Islam, sebenarnya kita telah memiliki pedoman dalam
hidup. Hanya saja belum teraplikasi secara menyeluruh. Padahal, sudah ada
seorang ayng mencontohkan model kepemimpinan yang ideal berdasarkan al-Qur’an.
Seorang yang harusnya menjadi role mode bagi umat manusia. Sebutlah
Bagianda tercinta Muhammad SAW, dimana kepemimpinannya yang tak pernah ada yang
menandingi sepanjang masa bahkan sampai hari akhirpun.
Memang sebelumnya Rasulullah adalah orang yang Ummi, tidak
pernah mengenyam pendidikan. Mengembala adalah pelajaran kesabaran yang peroleh
Nabi Muhammad SAW. bukan suatu perkara mudah. Mengembala kambing atau biri-biri
mengajarkan bagaimana bertindak dengan hati yang selalu dingin dikala dinginya
sahara. Pertemuan tak terduga dengan musafir yang numpang dan meminta seteguk
air minum mengajarkan beliau berbagi. Susahnya mengatur kambing yang ratusan
itu menjadi ilmu beliau dalam bertaktik negosiasi. Kesendirian saat menunggu
binatang gembalaan memberikan rasa tersendiri bagi beliau yang kemudian
menjadikan beliau merenung dan berpikir dengan dirinya sendiri. Dari semua itu,
batuan terjal pegunungan sahara menjadikan Rasulullah merasakan sebuah
perjuangan mencapai suatu ketinggian. Padahal Rasulullah masih kecil saat itu.
Namun, kesabarannya sangat luar biasa.
Sepanjang hidupnya yang menyedihkan menurut ukuran manusia biasa,
merupakan sebuah pendidikan yang di enyam dengan caraa yang berbeda. Terlahir
tanpa ayah, tidanggal bersama kakek saat berumur 5 tahun dengan Kakek
sepeninggal sang Bunda dan berdagang saat bersama pamannya.
Jelas, semuanya mengajarkan beliau segala hal nilai kehidupan,
mengertia arti kehilangan di saat usia kanak-kanak menjadi orang yang berbesar
hati. Rupanya belajar bernegosiasi di mulai saat beliau ikut serta bersama
pamanya ke Syam masa itu, usia dua belas tahun masa itu.
Kejujuran yang di tanam sejak dirinya kecil memberikan keuntungan
besar dalam niaganya. Banyak orang percaya dengannya, dan muncul julukan
al-Amin. Muhammad al-Amin. Tak ada satupun orang yang tidak percaya dirinya.
Sampai kemudian Islam datang dan mengagetkan dirinya saat usia 40 tahun.
Di Gua Hira’ masa itu, ketakutan adalah perasaan pertama yang
dirasakannya. Hari dimana wahyu pertama turun, hari dimana terjadi perubahan
besar kemudian dalam hidup sang Kekasih.
Kesabaran yang dimilikinya yang menjadikannya tidak mudah terbawa
emosi adalah alasan mengapa sang Baginda selalu memenangkan segala hal. Sistem
politik yang tertata yang seharusnya tidak mungkin mengingat dirinya yang Ummi
(tidak bisa membaca) pada saat itu.
Lihatlah kemiliteran yang kuat dengan modal hanya sebillah pedang
dan panah di tangan prajurit. Lalu kemudian kecerdikan sang Kekasih Allah SWT.
Ini dalam menyusun strategi peperangan yang rapi bahkan tak pernah terpikir
dalam pandangan musuh.
Kemampuan dalam bernegosiasi dan bersikap adalah sekian alasan yang
menjadi tonggak utama ekspansi besar-besaran yang dilakukan Rasulullah dalam
penyebaran Islam.
Sebelum masa keemasannyapun, Rasulullah menggunakan metode yang
sangat tidak terpikir umat lainnya. Yaitu, penyebaran Islam secara
sembunyi-sembunyi. Bukan karena beliau takut hanya saja Rasulullah menunggu
tuhannya yang perintahkan. Kekasih kesayangan Allah ini selalu menunggu
perintah dari atasannya. Anggaplah Allah Raja di Raja dan Rasulullah
panglimanya. Seorang yang tangguh yang berhasil menyempurnakan agama dan
kebenaran yaitu ad-Din al-Islam.
Lisannya yang tak pernah berhenti dalam lberdo’a dan memohon
pertolongan Allah SWT, karena bagi Beliau kekuatan Allah-lah yang dapat
mengalahkan kekuatan musuh yang dua kali lipat lebih besar itu. Lalu, kesopanan
dan kesantunan yang hanya beliau lakukan walaupun kepada musuh.
Hatinya lemah lembut tidak pernah menyakiti siapapun disekitarnya,
dhuafa fakir dan miskin adalah utamanya. Bila di tanya mengenai anak yatim,
hubungan mereka sangat erat seperti jari telunjuk dan jari tengah, diusapnya
selalu kepala anak yatim setiap beliau menemuinya di jalan.
Semua itu, bisa kita jadikan pedoman dalam mencari pemimpin yang ideal,
sesuai aturan yang telah Allah tetapkan dalam Al-Qur’an. Rasulullah telah
melaksanakan kesemuanya.
Bagaikan smartphone yang memiliki petujuk pemakaian atau
sebut saja manual book. Manusia juga punya itu, iya itu adalah al-Qur’an
kemudian diperjelas dengan al-Hadis melalui perbuatan, perkataan dan jawaban
dari Rasulullah.
Jadi mengapa kita begitu membingungkan dengan mencari pemimpin
ideal yang rumit, yang harus ini itu dan susah ditemukan pada akhirnya. Kenapa
tidak menjadikan opsi ini sebagai jawaban.
Bila mengingat ternayta Indonesia yang menganut sistem Demokrasi
kepemimpinan, rasanya Rasulullah juga melakukan hal itu. Bila yang kita maksud
adalah kepemimpinan dari, oleh untuk rakyat. Rasulullah juga melakukan itu. \
Tidak pernah Rasulullah mengambil keputusan sendiri, selalu sang
Baginda musyawarahkan bersama dengan sahabat. Bahkan saat dengan musuh kaum
kafir Qurais beliau selalu megajak untuk bermusyawarah terlebih dahulu, bukan
karena Rasulullah menginginkan puntuk berperang. Hanya saja sang musuh yang
menginginkannya.
Rasulullah hanya ingin melindungi umatnya, umat Islam. Kaum papa,
dhuafa, fakir, miskin, budak, yatim piatu, orang tua dan wanita lemah yang
beliau prioritaskan. Beliaulah cendikiawan Islam pertama, sang Kekasih Allah
SWT.
Secara
fundamental, kerja pemikiran yang dilakukan oleh seorang intelektual dalam
kapasitasnya sebagai seorang pemikir dan konseptor. Namun, pemikiran tidak
berubah secara otomatis menjadi sebuah kultur yang efektif di hadapan
masyarakat. Ia harus berubah menjadi keyakinan masyarakat yang dibangun di atas
kekuatan sosial dan politik yang dapat diwujudkan di dunia nyata.
Perwujudan yang
berasal dari pemikiran para kaum intelek merupakan faktor penentu. Memang,
karena sebenarnya semua berasal dari ilmu. Selanjutnya diaplikasikan kepada
tindakan melalui metode yang telah disesuaikan. Bagis etiap Negara memang
berbeda.
Bila diinginkan
metode kepemimpinan profetik (Kepemimpinan Rasulullah) rasanya sangat pas untuk
semua Negara. Kembali lagi, alasan kuatnya karena sesuainya metode ini dengan
al-Qur’an.
Bukan karena
ini rasis dan memihak satu golongan tertentu, penyataan tersebut didapat
berdasarkan pada kenyataan yang real dimasa sejarah lalu. Bahkan, kaum intelek
dunia baratpun mengakui kekuatan Muhammad SAW sebagai panglima dengan
penyusunan strategi militer yang cerdik.
Namun, kembali
lagi segalanmya terdapat pertanggung jawabannya. Seperti yang telah Rasulullah
sabdakan berikut:
Ibnu Umar radhiallahuma berkata : saya telah mendengar
Rasulullah SAW bersabda : Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta
pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta
pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya
perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga
suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang
pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya
juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan
ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (HR.
Bukhari Muslim).
Pertanggung jawaban mungkin belum dirasakan sekarang, saat seorang
pemimpin merasa berkuasa dan tidak berbuat semestinya sebagai seorang pemimpin.
Menggemukkan kantong sendiri, mengenyangkan perut sendiri. Lupa akan janji
sebelumnya. percayalah bahwa segalanya telah tercatat rapi.
Abdullah bin ‘Amru bin al ‘Ash r.a berkata: Rasulullah SAW
bersabda: Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil, kelak disisi allah ditempatkan
diatas mimbar dari cahaya, ialah mereka yang adil dalam hokum terhadap keluarga
dan apa saja yang diserahkan (dikuasakan) kepada mereka. (HR. Muslim)
Namun, bagi yang melaksanakan hal yang benarpun juga mendapatkan rewardnya
tersendiri. Disebutkan disebelumnya kepemimpinan merupakan dua bilah mata
pisau, saat bagian satu dapat memotong dan lainnya tidak. Jangan kemudian saat
menjabat menjadi pemimpin atau pimpinan tidak melaksanakan amanah dengan baik.
Saat kemudian bilah tajam itu benar-benar memotong hancur diri kita. Saat
dimana sebuah kebaikan lebih diutamakan dari pada keberhasilan mencapai puncak
kepemimpinan dengan cara kotor. (igip).
Beberapa Bulan lalu saat nyobain ikut kontes artikel, Milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Jelas, aku kalah.. Tapi yaudalah ya... yang penting udah nyoba. Itung-itung udah menggunakan jatah kegagalan...
Sidoarjo, 23 September 2018
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment