Skip to main content

Featured

Semua Bisa Menulis, Mari Menulis!

Semua Bisa Menulis, Mari Menulis!
(Berkarya tanpa Takut Salah)



Sebagian orang begitu mudah menulis keluh kesahnya di media sosial, membuat status tentang kegiatan sehari-harinya atau bahkan menyindir orang lain yang tidak enak hati padanya. Namun, ketika dihadapkan untuk membuat sebuah tulisan yang lebih baik dalam arti manfaatnya, mereka merasa susah. Menulis artikel atau berita, misalnya.
Seringkali muncul pertanyaan, “Pengen nulis, tapi masih bingung gimana?” atau pertanyaan seperti “Bingung mau nulis apa? Terus kalau udah ketemu topiknya kadang suka bingung nyusun kata-katanya?” Sebenarnya sederhana saja, asal ada niat dan konsisten pada diri serta tujuan, bukan tidak mungkin lagi kita bisa menulis.
Seperti menulis status di media sosial, meluapkan kegelisahan dalam hidup. Menulis artikel atau berita juga begitu, yaitu memulai dari kegelisahan kita. Menuangkan gagasan yang sedang dipikirkan dan dirasakan, untuk kemudian diekspresikan melalui kata-kata.
Masalah lainnya seperti susahnya mempertimbangkan kata-kata yang dipakai, juga salah satu penyebab urungnya seseorang menuliskan tulisannya, padahal topik sudah terpikirkan. Orang tidak akan merasakan manisnya kemenangan bila tidak tahu pahitnya pertempuran itu sendiri. Karena itulah, kita tidak akan tahu hasil tulisan akan bagaimana, jika belum menulis. Maka, mencoba adalah jawaban utamanya. Memulai dengan mengkonversikan Bahasa lisan kedalam tulisan. Apabila dilakukan dengan rutin sangat mungkin kita akan terlatih.
Tentu harus ada dasar disetiap tulisan. Orang bilang, “Apa yang di baca akan berpengaruh terhadap tulisan,” jelas bukan hanya sebuah gurauan belaka, tetapi memang adanya seperti itu. Membaca berarti ia menyerap apa yang di baca, dengan begitu sama saja kita memberi makan otak kita. Menulis artinya menuangkan pikiran kedalam tulisan, sedangkan pikiran ada dalam otak. Masalah bagaimana respon orang lain saat membaca itu urusan nomer kesekian, karena yang paling utama adalah kita sudah menulis. Apapun alasannya.
Siapa yang rutin membaca, maka akan bisa menulis. Bukan hanya membaca teks, tetapi juga membaca lingkungan (situasi). Menghidupkan sense dalam diri, pada akhirnya kita akan mudah dalam mencari topik yang ingin ditulis. Misalnya tentang diri kita, atau permasalahan orang lain, atau bahkan mengkritisi tentang sistem politik yang ada. Tidak akan jadi tulisan jika tidak di tulis. Bukan masalah tidak dapat menuangkan tulisan, tapi memang tidak ditulis. Jadi syarat utama menulis adalah menulis meski harus dipaksa. (igip)



Sidoarjo, 28 September 2018

Comments

Popular Posts