Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Perempuan Pemberani dan Kepemimpinan
Perempuan Pemberani dan Kepemimpinan
Berbicara mengenai kepemimpinan pasti yang terpikir pertama kali
adalah laki-laki. Bukan sebuah fakta yang keliru, atau menafikan fakta
tersebut. Tapi begitulah adanya, memang laki-laki adalah seorang pemimpin.
Pemimpin keluarga atau minimal pemimpin bagi dirinya sendiri, Allah telah
menyebutnya dalam al-Qur’an. Kadang hal tersebut menjadikan kebanyakan orang akan
memandang sebelah mata terhadap pemimpin perempuan. Tetapi, benarkah begitu?
Apa perempuan akan selamanya menjadi pengikut? Tidak bisakah mereka memiliki
pendapatnya sendiri?
Emansipasi Wanita, telah diperkenalkan oleh bunda RA Kartini pada
masa itu. Bahwa perempuan tidak lagi hanya bertanggung jawab seputar “Masak,
Macak, Manak”, tapi perempuan juga berhak untuk mendapatkan pendidikan,
berhak belajar dan berkembang sesuai dengan potensinya.
Pada faktanya, hanya sebagian yang merasakan emansipasi wanita ini.
Kenyatannya budaya patriarki masih kental di Indonesia. Dimana pemegang
kekuasaa utama adalah laki-laki, ia mendominasi dalam peran kepemimpinan
politik, otoritas moral, hak sosial, dan penguasaan properti. Dalam domain
keluarga, sosok yang disebut ayah memiliki otoritas terhadap perempuan,
anak-anak dan harta benda.
Berdasarkan penelitian oleh media cetak Kompas tanggal 31 Agustus
2017 lalu, Indeks Kesenjangan Gender (IKG) Indonesia terdapat pada peringkat
105 dari 188 negara didunia. Jumlah perempuan di kursi parlemen dan partisipasi
angkatan kerja secara formal maupun informal masih sangat sedikit.
Paling menyedihkan adalah masih saja pada masa modern ini kasus
pelecehan wanita. Perbuatan yang tidak bertanggung jawab itu dilakukan oleh
orang-orang biadab yang tak memiliki perasaan, mereka bahkan tidak berpikir
karena pernah terlahir dari Rahim seorang perempuan juga. Kebanyakan korban
terdiri dari perempuan yang tak berdaya dan rapuh. Mulai dari pelecehan bapak
dengan anak perempuannya, pelecehan perempuan cantik oleh tetanganya, dan
kasus-kasus lain yang ngeri bahkan tidak pantas untuk di jelaskan disini.
Na’udzubillah..
Bila menoleh kebelakang, kita bisa belajar dari sejarah kepada para
muslimah pada zaman Rasulullah. Banyak deretan muslimah tanguh yang rela bahkan
ikut perperang melawan kaum kafir Quraisy, sebagian lain berkarir dengan sesuai
potensinya seperti mengajar atau membuat sya’ir.
Asma’ binti Yazid bin Sakan, memang namanya tidak terlalu terkenal
seperti sahabat Rasulullah lainnya. Tapi, curahan dirinya terhadap islam lah
yang perlu kita pelajari, terutama seorang Muslimah agar meniru perbuatannya.
Asma’ adalah seorang ahli hadits yang mulia, seorang mujahidah yang agung,
memiliki kecerdasan, din yang bagus, dan ahli argumen, sehinga sering
dijuluki sebagai ‘Juru Bicara Wanita’. Ketika terdapat ketidaktahuan mengenai
ibadah atau hal yang berhubungan dengannya, maka Asma’ lah yang akan menghadap
Rasulullah dan bertanya kepada Beliau. Asma’ pulalah yang bertanya kepada
Rasulullah tentang cara bersuci (Thaharah) bagi perempuan setelah haid.
Ia memiliki kepribadian yang kuat dan tidak malu untuk menanyakan sesuatu
yang hak.
Pada suatu ketika Asma’ bertanya kepada Rasulullah mengenai kaum
laki-laki yang mendapatkan keutamaan melebihi perempuan, seperti shalat Jum’at,
mengantarkan Jenazah, dan berjihad. Mendengar pertanyaan tersebut Rasulullah
menoleh kepada para sahabat dan bersabda: “Pernahkah kalian mendengar
pertanyaan seorang wanita tentang din yang lebih baik dari apa yang ia
tanyakan?”. Para sahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah
mendengarkannya ya Rasulullah!” Kemudian Rasulullah bersabda, “Kembalilah
wahai Asma’ dan beri tahukanlah kepada para wanita yang berada dibelakangmu
bahwa perlakuan baik salah seorang mereka kepada suaminya, meminta keridhaan
suami, dan meminta persetujuan suami, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal
yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki.”
Keinginan kuat dalam dadanya untuk ikut andil dalam berjihad baru
terrealisasi pada perang Yarmuk pada tahun 13 Hijriah, setelah wafatnya
Rasulullah. Pada perang itu shalihah ini senantiasa menyertai perjuangan umat
Islam dengan gagah berani. Ia bersama-sama muslimah lain berada dibelakang para
mujahidin, perjuangannya dengan membantu mempersiapkan senjata, memberikan
minum, dan mengobati yang terluka diantara mereka. Lambat kemudian, perang
makin berkecamuk, manakalah kedua belah pihak bertempur dengan sengitnya, saat
mata menjadi merah karena ganasnya pertempuran, ketika itu Asma’ lupa bahwa
dirinya seorang perempuan.
Dengan sebuah tiang kemah, dijadikannya tiang itu sebagai senjata
dan mulai membaur dengan kaum muslimin laki-laki. Perempuan itu dengan gagah
berani memukul musuh-musuh Allah ke kanan dan ke kiri, hingga dapat membunuh
Sembilan orang dari tentara romawi. Sungguh, keberanian yang sangat luar biasa
dari seorang perempuan yang seringkali dianggap rapu dan tak berdaya.
Seperti itulah perempuan pada masa Rasulullah, mungkin saat ini
sudah tidak ada lagi peperangan seperti yang telah dirasakan Asma’ binti Yazid
bin Sakan. Bahkan cenderung bisa hidup enak tanpa merisaukan apapun. Namun,
dibalik itu haruslah seorang perempuan untuk maju. Jangan mau kalah dengan
laki-laki, setidaknya bila tak bisa menjadi seorang pemimpin maka jauh lebih
baik perempuan harus belajar dan terdidik agar tak dibodohi lagi seperti pada
kasus yang kebanyakan terjadi. Tunjukkan bahwa dibalik kerapuhan dan ketidakberdayaan
perempuan dari fisik bukanlah sebuah alasan untuk lari dari dunia, bukan sebuah
alasan untuk perempuan bersembunyi dari semuanya.
Alhamdulllah, jika ternyata
kita adalah seorang pemimpin nantinya (Hari ini atau esok), namun perlu digaris
bawahi memimpin adalah suatu amanah. Sedangkan amanah harus dilaksanakan dengan
hati ikhlas dan niat yang tulus, jangan pernah menyeleweng serta selalu hargai
pendapat orang lain. Tidak boleh jika merasa benar sendiri, Karena kita sedang
memimpin. Sejatinya pemimpin merupakan penyalur apa yang dikeluhkan bawahan,
bila belum sejahtera bawahan berarti belum berhasil pula kepemimpinan yang kita
lakukan. Kembali lagi yang terpenting, pimpinlah diri sendiri dahulu, pelajari
banyak ilmu meski tidak menjadi seorang pemimpin maka jadilah seorang pemimpi
yang akan terus bermimpi dan tak berhenti berjuang. Tunjukkan bahwa perempuan
tidak selemah yang lelaki pikirkan.
“Atribut
natural perempuan yang sesitif, intuitif, empati, suka merawat, mampu bekerja
sama, dan mengakomodasi dapat menjadikan proses-proses organisasi menjadi
Efektif (Growe, 1990)”
02
Januari 2018
*Tulisan beberapa bulan lalu, yang baru upload juga
- Get link
- X
- Other Apps
Comments

Sangat menginspirasi
ReplyDelete